Saatnya Industri Tekstil Terapkan Ekonomi Sirkular

2 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Industri tekstil didorong bertransformasi menuju sistem sirkular yang lebih menyeluruh. Perubahan ini tidak lagi hanya berfokus pada daur ulang, tetapi mencakup strategi reduce, reuse, hingga rethink di seluruh rantai produksi.

Konsep ini menekankan pengurangan limbah sejak awal (reduce), penggunaan kembali material agar tidak menjadi sampah (reuse), serta mendesain ulang produk dan proses produksi agar lebih efisien dan berkelanjutan (rethink).

Tekanan global terhadap isu lingkungan dan efisiensi rantai pasok menjadi pendorong utama pergeseran tersebut. Industri dituntut lebih adaptif sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis.

Seruan ini disampaikan Politeknik STTT Bandung melalui Program Magister Terapan Rekayasa Tekstil dan Aparel (RTA) dalam seminar di ajang Indo Intertex 2026 yang mengangkat tema “Beyond Sustainability”. Pameran tekstil Indo Intertex sendiri digelar pada 15–18 April 2026.

Tema ini menekankan transformasi menuju sistem yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan. Sejumlah inovasi dosen dan mahasiswa turut dipamerkan, mulai dari advanced textiles, material ramah lingkungan, hingga proses produksi berkelanjutan.

Kaprodi Magister Terapan RTA Prof Ida Nuramdhani mengatakan, transformasi industri tidak cukup berhenti pada wacana. “Dalam dunia yang semakin dinamis, inovasi menjadi kunci utama, dan kesiapan SDM menjadi salah satu pilar pentingnya,” kata Ida.

Menurut Ida, peran pendidikan tinggi menjadi kunci dalam menyiapkan tenaga terampil sekaligus mendorong riset sebagai penggerak perubahan industri tekstil nasional.

Dari sisi industri, Direktur Marketing dan Operasional II PT Tribhakti Inspektama Muhamad Ihsan menilai transformasi juga menyasar aspek inspeksi dan kepatuhan produk.

"Transformasi inspeksi di industri tekstil yang sebelumnya hanya berfokus pada pemeriksaan secara fisik, kini berkembang ke arah memastikan bahwa produk yang dihasilkan telah memenuhi standar compliance sejak proses produksi,” ujar Ihsan.

Akademisi Prof Mohamad Widodo menegaskan, pergeseran menuju ekonomi sirkular harus lebih ambisius. “Pekerjaan rumah kita menuju sirkularitas harus bergerak dari sekadar recycle ke strategi yang lebih tinggi seperti reuse, reduce, rethink, dan refuse,” ujarnya.

Koordinator Nasional UNEP InTex Indonesia Diah Ratna Pratiwi menambahkan, dampak lingkungan industri tekstil terjadi di seluruh rantai nilai. Karena itu, pendekatan circular textile value chain menjadi kebutuhan.

Pelaku industri menilai keberlanjutan kini sudah masuk ke dalam transformasi sistem, terutama di rantai pasok. Tantangan berikutnya adalah memastikan implementasi berjalan tanpa mengganggu keberlangsungan bisnis.

“Peralihan ini tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi dan meningkatkan daya saing sektor tekstil,” katanya.

Read Entire Article
Politics | | | |