REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bank Indonesia bekerja sama dengan para pemangku kepentingan meluncurkan Kajian Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (KEKSI) 2025. Peluncuran tersebut bersamaan dengan Kick-Off Bulan Pembiayaan Syariah (BPS), dan Sharia Economic and Financial Outlook (ShEFO) 2026.
Rangkaian kegiatan bertema “Sinergi Ekonomi dan Keuangan Syariah Mendorong Pertumbuhan Ekonomi yang Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan” menjadi forum diseminasi asesmen tantangan, strategi, dan arah kebijakan ekonomi dan keuangan syariah, sekaligus menandai dimulainya Bulan Pembiayaan Syariah (BPS) untuk mendorong intermediasi sektor keuangan syariah. Kegiatan ini diselenggarakan oleh KNEKS, Bank Indonesia, dan OJK, dengan melibatkan berbagai kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian UMKM, Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Agama, Perdagangan, Koperasi, ATR/BPN, serta BUMN.
Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI Imam Hartono menyatakan ekonomi dan keuangan syariah nasional tetap menunjukkan daya saing di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Hal tersebut tercermin dari kinerja Halal Value Chain (HVC) yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2025.
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,11% (yoy) pada 2025, sektor HVC tumbuh 6,2% (yoy), didorong oleh peningkatan kinerja sektor makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, serta modest fashion. Kontribusi HVC terhadap PDB juga meningkat dari 25,45% pada 2024 menjadi 27% pada 2025, atau naik 155 basis poin.
Dari sisi keuangan, hingga akhir 2025 pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,66% (yoy), didukung penyaluran insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) Syariah sebesar Rp35 triliun, atau 4,49% dari batas 5,5% per Desember 2025.
Selain itu, akselerasi pembiayaan juga didorong melalui berbagai program, salah satunya Bulan Pembiayaan Syariah (BPS) yang kembali diluncurkan tahun ini. Pada tahun sebelumnya, rangkaian kegiatan BPS membukukan realisasi sebesar Rp 939 miliar atau 60 persen lebih tinggi dibandingkan target Rp 589 miliar.

4 hours ago
5















































