Studi: Cuaca Ekstrem Diam-Diam Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

4 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gelombang panas, suhu dingin ekstrem, hingga hujan lebat bukan hanya mengganggu aktivitas harian. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah American Journal of Preventive Medicine mengungkap kondisi cuaca ekstrem juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung secara signifikan.

Penelitian yang dilakukan di 157 kota di Cina selama periode 2015–2020 menemukan adanya hubungan antara paparan cuaca ekstrem dengan meningkatnya beban penyakit kardiovaskular di tingkat populasi. Salah satu peneliti utama, Linjiang Wei dari Xiamen University, menjelaskan suhu panas dan dingin ekstrem sama-sama berkontribusi terhadap peningkatan risiko tersebut.

Dilansir dari ABC News, Rabu (22/4/2026), hasil studi menunjukkan, setiap hari dengan suhu di atas 38 derajat Celsius dapat meningkatkan risiko penyakit jantung hingga sekitar 3 persen.

Sementara itu, suhu sangat dingin (di bawah minus 10 derajat Celsius) juga meningkatkan risiko, meski lebih kecil, yakni kurang dari 1 persen. Curah hujan tinggi, lebih dari sekitar 5 cm per hari, turut dikaitkan dengan kenaikan risiko hingga hampir 2 persen.

Kardiolog dari Yale School of Medicine, Jennifer Miao, mengatakan bahwa kaitan antara perubahan iklim dan penyakit kardiovaskular sebenarnya telah lama diteliti. Ia menyebut faktor lingkungan berkontribusi pada setidaknya satu dari lima kematian akibat penyakit jantung secara global, yang jumlahnya mencapai sekitar 20 juta kasus setiap tahun.

“Penting bagi pasien dan tenaga kesehatan untuk menyadari bahwa faktor lingkungan merupakan kontributor utama tidak hanya untuk penyakit jantung, tetapi juga penyakit paru hingga kanker,” ujarnya.

Studi ini juga menemukan bahwa kelompok tertentu lebih rentan terhadap dampak cuaca ekstrem, di antaranya individu usia produktif, perokok, orang dengan indeks massa tubuh (BMI) tinggi, serta mereka yang tinggal di daerah dengan polusi ozon tinggi atau wilayah pedesaan. Selain itu, dampak juga bervariasi secara geografis suhu panas lebih berpengaruh di wilayah timur, sementara suhu dingin lebih berdampak di wilayah barat.

Para peneliti menyoroti bahwa peningkatan frekuensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim membuat temuan ini semakin mengkhawatirkan. Laporan tahun 2025 dari The Lancet bahkan menyebut sekitar 84 persen hari dengan gelombang panas pada periode 2020–2024 tidak akan terjadi tanpa pemanasan global.

Untuk mengurangi risiko, masyarakat disarankan mengambil langkah pencegahan saat cuaca ekstrem. Seperti menjaga kecukupan cairan, menghindari aktivitas berat di luar ruangan, menjaga suhu ruangan tetap stabil, serta memastikan ketersediaan obat-obatan.

Meski demikian, Wei menegaskan satu hari cuaca buruk tidak serta-merta memicu serangan jantung. “Yang perlu diperhatikan adalah paparan berulang terhadap cuaca ekstrem yang dapat meningkatkan risiko secara bertahap di tingkat populasi,” jelasnya.

Penelitian lanjutan masih terus dilakukan untuk memahami lebih dalam bagaimana paparan cuaca ekstrem dalam jangka panjang memengaruhi kesehatan. Para ahli juga mengingatkan bahwa peringatan cuaca kini sebaiknya dipandang sebagai peringatan kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia dan individu dengan faktor risiko tertentu.

Read Entire Article
Politics | | | |