Sumbang 9 Ton Beras, Asosiasi Ma’had Aly Indonesia Jadi Benteng di Tengah Duka Aceh

3 weeks ago 22

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pesantren kembali membuktikan jati dirinya sebagai pilar ketangguhan umat, terutama saat ujian bencana datang. Melalui jaringan persaudaraan yang kuat, Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI) menyalurkan bantuan kemanusiaan sebanyak 9 ton sebagai bentuk nyata solidaritas terhadap lembaga pendidikan keagamaan yang terdampak di Aceh.

Ketua AMALI, KH Nur Salikin, menjelaskan bahwa bantuan tersebut didistribusikan kepada lima Ma’had Aly besar dan 15 pondok pesantren kecil yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Aksi ini menjadi simbol eratnya ikatan batin antarlembaga Ma’had Aly di seluruh penjuru tanah air terhadap penderitaan sesama.

Bagi Kiai Nur Salikin, pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejarah telah mencatat bahwa pesantren selalu berada di barisan terdepan dalam menjaga stabilitas dan keutuhan bangsa, tanpa pernah berkhianat kepada negara.

“Dalam catatan sejarah, tidak pernah ada pesantren yang membelot kepada negara. Justru pesantren selalu hadir menjaga keutuhan bangsa,” ujar Kiai Nur Salikin dalam keterangannya di Jakarta, Senin (29/12/2025).

Dalam rincian penyalurannya, lima Ma’had Aly penerima manfaat masing-masing mendapatkan satu ton beras. Lembaga tersebut meliputi Dayah Abu Kuta Krueng, Dayah Abu Mudi Samalanga, Dayah Cot Trueng Aceh Utara, Dayah Babussalam Matang Kuli, dan Dayah Malikussaleh Panton Labu.

Sementara itu, sisa bantuan yang terkumpul dialokasikan untuk 15 pondok pesantren kecil lainnya yang juga mengalami dampak serius akibat terjangan banjir bandang. Langkah ini diambil untuk memastikan distribusi bantuan menjangkau titik-titik yang paling membutuhkan.

Nur Salikin menyoroti peran heroik pesantren di Aceh yang sering kali menjadi pelindung fisik bagi masyarakat sekitar. Saat bencana melanda, bangunan pesantren secara tidak langsung berfungsi sebagai "perisai" yang menahan laju material berbahaya agar tidak menghancurkan pemukiman warga.

“Di Aceh, bangunan pesantren bahkan menjadi benteng alami, menahan kayu-kayu besar saat banjir agar tidak menghantam rumah warga. Namun ironisnya, perhatian negara terhadap pesantren masih dirasa masih minim,” tuturnya menyayangkan.

Kehadiran AMALI di bumi Serambi Mekkah ini sekaligus membawa misi penegasan bahwa solidaritas antar-Ma’had Aly tidak bisa dipandang sebelah mata. Kebersamaan ini merupakan modal sosial yang sangat berharga, terutama dalam menghadapi situasi darurat pascabencana.

Menurut Kiai Nur Salikin, filosofi satu tubuh sangat relevan dalam gerakan ini. Ketika satu bagian lembaga merasakan sakit akibat bencana, maka Ma’had Aly di wilayah lain akan ikut merasakan kepedihan yang sama dan tergerak untuk mengulurkan tangan.

Tak hanya berhenti pada bantuan pangan, AMALI juga tengah bekerja keras menghimpun data para mahasantri yang terdampak. Fokus utama mereka adalah membantu para penuntut ilmu yang terancam putus sekolah karena kehilangan harta benda dan mata pencaharian orang tua.

Data yang terkumpul nantinya akan dijadikan dasar untuk membuka pintu harapan melalui berbagai skema bantuan pendidikan. Harapannya, lembaga seperti Baznas, kementerian terkait, hingga penyedia beasiswa lainnya dapat ikut turun tangan membantu masa depan mereka.

AMALI menyampaikan apresiasi tinggi kepada KH Mahrus el-Mawa dari Kemenag RI dan Kanwil Kemenag Aceh. Berkat koordinasi yang apik, misi kemanusiaan ini dapat berjalan lancar dan memastikan setiap butir bantuan sampai ke tangan para penjaga gawang moral bangsa.

Read Entire Article
Politics | | | |