Tidak Mudah, tapi Bukan Halangan: Kisah Lulusan Terbaik Unej yang Menaklukkan Batasan Ekonomi

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di balik sorot mata bangga ratusan wisudawan Universitas Jember (Unej), terselip perjalanan panjang penuh ketangguhan. Sabtu (7/2/2026) lalu, Auditorium Unej menjadi saksi sukacita bagi mereka yang mengikuti upacara wisuda periode VIII tahun akademik 2025/2026.

Rektor Unej, Iwan Taruna, mengukuhkan kelulusan tiga doktor, 52 magister, 724 sarjana dan sarjana terapan, serta 21 diploma 3, di hadapan keluarga yang penuh kebanggaan.

Dari semua wisudawan, satu nama mencuri perhatian: Nadiya Ayu Sekar Kinari. Perempuan asal Bandung ini tidak hanya lulus sebagai salah satu lulusan terbaik dari Program Studi Pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), tetapi melakukannya dengan catatan luar biasa: IPK 3,64 dan masa studi hanya 3 tahun 11 bulan 8 hari.

Prestasinya bukan hasil dari mengurung diri di perpustakaan saja. Di tengah padatnya kurikulum kedokteran gigi, Nadiya aktif berorganisasi. Ia pernah tergabung dalam BEM FKG, UKM Lisma, Insisivus, bahkan menjadi pengurus nasional di Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (PSMKGI) periode 2022–2024.

Dukungan Keluarga: Motivasi di Balik Segala Keterbatasan

Kunci kesuksesan Nadiya ternyata terletak pada dukungan tanpa syarat dari keluarganya, yang justru berjuang di tengah keterbatasan ekonomi. Kedua orang tuanya, yang bekerja sebagai pegawai swasta, berkomitmen penuh untuk pendidikan keempat anak mereka. Ayahnya harus menempuh puluhan kilometer dari Bandung untuk bekerja, sementara ibunya sering dinas ke luar kota, bahkan hingga Papua, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Pertemuan keluarga seringkali hanya terjadi di akhir pekan.

“Sebagai anak pertama, saya tahu betul kesulitan mereka membiayai empat anaknya yang semuanya masih sekolah. Orang tua selalu melarang kami memikirkan jika itu menyangkut biaya sekolah atau kuliah,” tutur Nadiya.

Keluarga mereka pernah tinggal di rumah kontrakan dengan sewa yang terus naik, ditambah biaya hidup di Bandung yang tidak murah. Namun, tekad orang tua Nadiya bulat: anak-anak harus mendapatkan pendidikan terbaik. “Orang tua selalu mengatakan bahwa biaya sekolah pasti akan dicarikan, berapapun itu,” kenangnya.

Pengorbanan itu kerap membawa dilema emosional bagi Nadiya. Ia mengaku sering merasa berat bahkan menangis ketika harus meminta biaya kuliah. Namun, justru sikap orang tuanya yang selalu melarangnya untuk merasa terbeban, itulah yang memupuk rasa tanggung jawab dan tekadnya untuk membalas semua pengorbanan mereka dengan prestasi.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |