REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengonfirmasi pada Senin (9/2) bahwa Rusia dan Amerika Serikat (AS) terus bekerja untuk menjalankan kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan puncak di Anchorage, Alaska, tahun lalu. Meski mengaku komitmen itu tetap berjalan, Peskov menekankan bahwa diskusi terbaik dilakukan secara tertutup, tanpa tekanan publik.
"Pekerjaan terus berlanjut," tegas Peskov, seraya menyoroti apa yang disebut Kremlin sebagai "semangat Anchorage", serangkaian pemahaman yang diyakini Moskow dapat membuka terobosan dalam menyelesaikan konflik di Ukraina. "Pemahaman ini sangat mendasar dan mampu memajukan proses penyelesaian," ujarnya.
Namun, di sisi lain, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov justru menyuarakan kekecewaan. Ia menilai AS tidak lagi siap menerapkan usulan yang diajukan di Anchorage. Lavrov juga mengkritik prospek kerja sama ekonomi dengan Barat yang suram. "Kami tidak melihat masa depan yang 'cerah' di bidang ekonomi," ungkapnya.
Di ranah lain, Kremlin juga mengkritik keras kebijakan AS terhadap Kuba, yang disebutnya sebagai "taktik mencekik". Peskov menyatakan Rusia sedang berdialog dengan Havana untuk mencari cara memberikan bantuan, terutama setelah situasi bahan bakar di Kuba memburuk menyusul operasi militer AS di Venezuela awal Januari.
Pergeseran Sikap Barat dan Kritik Atas Ketergantungan Eropa
Dalam perkembangan terpisah, Lavrov menilai adanya pergeseran sikap di antara beberapa pemimpin Barat. Dalam wawancara eksklusif dengan RT pada Rabu (12/2), ia menyatakan bahwa retorika awal Eropa yang menyerukan "kekalahan strategis" Rusia perlahan berubah menjadi penilaian ulang yang lebih hati-hati.
"Para ahli strategi militer Barat... akhirnya memahami bahwa rencana mereka gagal," ucap Lavrov. Ia mengingatkan kegagalan sejarah Napoleon dan Hitler, menyamakannya dengan upaya Barat saat ini yang meski bukan sebagai tentara langsung, tetapi sebagai "penyumbang, sponsor, dan pemasok senjata" bagi Ukraina.
Lavrov secara khusus menyoroti pernyataan Kanselir Jerman Friedrich Merz tentang perlunya Jerman kembali menjadi kekuatan militer dominan di Eropa. Bagi Lavrov, sikap itu mengungkap pola pikir yang berbahaya dan tidak belajar dari sejarah.
Ia juga mengkritik struktur keamanan Eropa yang dianggapnya tidak mandiri dan sepenuhnya dipimpin oleh AS melalui NATO. "Amerika tidak bermaksud membiarkan Eropa independen," tegasnya. Ironisnya, menurut Lavrov, Eropa menggambarkan Rusia sebagai negara yang kelelahan, namun di saat bersamaan bersiap menghadapi serangan dari Rusia. "Ini adalah diplomasi yang menyedihkan," ujarnya.
sumber : Antara

2 hours ago
8















































