REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ibu kota kembali berduka. Bukan karena kemacetan yang melelahkan, melainkan akibat infrastruktur jalan yang kembali menelan korban jiwa. Pada Senin (9/2) pagi sekitar pukul 06.00 WIB, seorang pelajar meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur. Tragedi ini diduga kuat dipicu oleh kondisi jalan yang rusak dan tidak rata.
Saksi mata di lokasi kejadian, Ardhi, menuturkan bahwa kawasan tersebut memang rawan kecelakaan karena banyaknya tambalan jalan yang tidak sempurna. "Motornya tidak rusak parah, hanya bagian depan yang pecah. Korban sudah tergeletak saat jalanan masih sepi," ungkapnya. Menurut warga, kondisi jalan di lokasi tersebut sudah lama rusak dan kerap hanya ditambal sulam tanpa perbaikan menyeluruh, menciptakan permukaan yang membahayakan, terutama bagi kendaraan roda dua.
Respons Cepat dan Permohonan Maaf Gubernur
Menanggapi insiden memilukan ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo langsung menginstruksikan jajaran Dinas Bina Marga dan Dinas Perhubungan untuk bergerak tanpa menunggu musim hujan usai. Pramono menegaskan bahwa penutupan lubang harus menjadi prioritas utama demi mencegah jatuhnya korban tambahan.
"Saya sudah memerintahkan agar lubang-lubang segera ditangani. Namun, saya memohon maaf kepada warga, karena jika curah hujan kembali tinggi, aspal yang baru diperbaiki kemungkinan bisa terbongkar kembali," ujar Pramono saat meninjau kondisi di Jakarta Timur. Hal ini diperkuat oleh penjelasan Dinas Bina Marga bahwa hingga saat ini belum ada jenis aspal yang sepenuhnya tahan terhadap kombinasi hujan, genangan air, dan beban kendaraan berat secara terus-menerus.
Sidak Flyover Pesing: Masalah Drainase di Ketinggian
Keresahan mengenai jalan rusak tidak hanya terjadi di jalan arteri seperti Matraman. Anggota Komisi C DPRD Jakarta, Hardiyanto Kenneth, melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Flyover Pesing, Jakarta Barat, pada Kamis (5/2) malam setelah menerima banjir keluhan masyarakat.
Dalam sidaknya, Kenneth menemukan banyak lubang di sepanjang jalan layang 1,5 kilometer tersebut. Ironisnya, kerusakan diperparah oleh tidak berfungsinya "tali air" atau saluran pembuangan karena tertutup tanaman liar. "Tali air yang tersumbat membuat air hujan menggenang di atas flyover dan merusak aspal. Ini sangat membahayakan nyawa," tegas Kenneth. Ia pun mendesak perbaikan permanen segera dilakukan agar masyarakat tidak terus menjadi korban.
Data Perbaikan: 8.528 Titik Telah Ditambal
Menjawab kritik dan tuntutan publik, Dinas Bina Marga DKI Jakarta melaporkan bahwa mereka telah bekerja maraton sejak awal tahun. Berdasarkan data resmi, dalam kurun waktu 1 Januari hingga 2 Februari 2026, sebanyak 8.528 titik jalan berlubang telah diperbaiki di seluruh wilayah Jakarta.
Ketua Sub Kelompok Pemeliharaan Bidang Jalan dan Jembatan, Benny Situmorang, mengakui bahwa tingginya curah hujan di awal tahun 2026 menjadi tantangan terbesar. "Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Pasukan kuning akan terus bekerja keras di lapangan. Kami juga mengimbau masyarakat untuk aktif melaporkan temuan jalan rusak agar bisa segera kami tindak lanjuti," kata Benny.
Tragedi yang menimpa seorang pelajar di Matraman menjadi pengingat pahit bahwa satu lubang di jalan raya bukan sekadar masalah teknis, melainkan pertaruhan nyawa. Kini, publik menanti janji pemerintah agar perbaikan tidak sekadar menjadi rutinitas tambal sulam, melainkan langkah nyata menjamin keselamatan warga di jalanan ibu kota.
sumber : Antara

2 hours ago
4















































