REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di antara para nabi yang dikenang karena keluasan sabarnya, nama Nabi Ayyub alaihis salam tetap hidup seperti mata air yang tak kering oleh musim.
Ia bukan hanya diuji dengan sakit yang panjang dan melemahkan tubuh, tetapi juga kehilangan harta, kemewahan, serta kenyamanan hidup yang dahulu mengelilinginya. Namun dari semua ujian itu, tidak pernah terucap keluhan dari lisannya kepada Allah SWT.
Padahal sebelum ujian itu datang, Nabi Ayyub adalah seorang yang hidup dalam kelimpahan. Ia memiliki hamparan kebun yang luas, ternak yang banyak, serta kehidupan yang penuh kecukupan. Rumahnya dipenuhi nikmat dan keberkahan. Tetapi ketika Allah menghendaki ujian, semua perlahan pergi meninggalkannya. Tubuhnya melemah, hartanya habis, dan hidupnya berubah menjadi sunyi.
Meski demikian, Nabi Ayyub tetap menggantungkan hatinya hanya kepada Allah SWT. Dalam sakit yang panjang dan menyiksa itu, ia tidak memaki takdir, tidak pula mempertanyakan kasih sayang Tuhannya. Yang keluar dari lisannya hanyalah doa yang lembut dan penuh adab.
وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوْبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ
Wadzkur ‘abdanā Ayyūba idz nādā rabbahū annī massaniya asy-syaithānu binushbin wa ‘adzāb.
“Ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya: ‘Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.’” (QS Shad: 41).
Begitulah Nabi Ayyub mengadu. Tidak dengan kemarahan, tidak pula dengan keputusasaan. Ia bahkan tidak menyalahkan Allah atas penderitaan yang menimpanya. Dalam kelemahan tubuhnya, ia masih menjaga adab kepada Rabb semesta alam.
Dikisahkan, saat orang-orang terdekat memintanya segera berdoa meminta kesembuhan, Nabi Ayyub justru merasa malu kepada Allah SWT. Baginya, puluhan tahun kesehatan dan nikmat yang telah Allah berikan jauh lebih panjang dibanding sakit yang baru ia rasakan. Sejumlah riwayat menyebut ia hidup sehat selama 70 hingga 80 tahun, sementara sakitnya tidak selama itu.
Kesabaran Nabi Ayyub seakan mengajarkan bahwa cinta kepada Allah tidak berubah hanya karena hidup berubah. Bahwa iman sejati tetap bertahan, bahkan ketika tubuh melemah dan dunia menjauh.
Hingga akhirnya, setelah sekian lama menanggung ujian, pertolongan Allah pun datang dengan cara yang begitu menenangkan hati.
ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَشَرَابٌ
Urkudh birijlik, hādzā mughtasalun bāridun wa syarāb.
“(Allah berfirman): ‘Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’” (QS Shad: 42).

4 hours ago
8

















































