Tak Lagi Dingin, Eropa Dihujam Panas, Riset Sebut Lonjakannya Hingga 3 Kali Lipat

7 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Eropa kembali dilanda gelombang panas ekstrem yang memecahkan rekor suhu pada akhir Mei 2026. Sejumlah negara seperti Inggris, Prancis, Spanyol, hingga Jerman mencatat suhu jauh di atas rata-rata normal musiman akibat fenomena yang dikenal sebagai “kubah panas” atau heat dome.

Lembaga pemantau cuaca Severe Weather Europe memperingatkan suhu di sejumlah wilayah melonjak hingga 12 sampai 16 derajat Celsius di atas norma klimatologis jangka panjang. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

Wilayah selatan dan barat daya Eropa seperti Portugal, Spanyol, dan Prancis diprediksi mengalami suhu maksimum hingga 38 derajat Celsius. Sementara negara-negara di Eropa utara seperti Inggris dan Jerman juga mencatat suhu menembus 30 derajat Celsius, angka yang tidak lazim untuk pertengahan Mei.

Badan meteorologi Prancis, Météo-France, menyebut fenomena “kubah panas” menjadi penyebab utama suhu ekstrem tersebut. Fenomena itu terjadi ketika sistem tekanan tinggi di atmosfer bagian atas memerangkap udara panas di bawahnya sehingga suhu terus meningkat dan sulit bergerak.

“Karena pola ini membatasi pencampuran vertikal dan tutupan awan, suhu maksimum dan minimum akan menantang rekor bulanan historis di ratusan stasiun di Eropa Barat,” tulis Severe Weather Europe dalam laporannya pada Selasa (26/5/2026).

Fenomena kubah panas berbeda dengan gelombang panas biasa. Kubah panas merupakan kondisi atmosfer ketika area bertekanan tinggi di lapisan atas udara bertindak seperti “tutup raksasa” yang memerangkap panas di permukaan bumi. Udara panas yang seharusnya naik dan berganti dengan udara lebih sejuk justru tertekan kembali ke bawah sehingga suhu terus meningkat dari hari ke hari.

Akibatnya, panas tidak mudah berpindah atau tersapu angin. Langit cenderung cerah tanpa banyak awan sehingga sinar matahari terus menyengat sepanjang hari. Pada malam hari pun suhu tetap tinggi karena panas yang terjebak tidak dapat dilepaskan dengan baik ke atmosfer.

Kondisi tersebut membuat suhu di suatu wilayah bisa bertahan jauh di atas normal dalam waktu lama. Tanah menjadi cepat kering, cadangan air menyusut, tanaman lebih mudah rusak, dan risiko kebakaran hutan meningkat drastis akibat vegetasi yang mengering.

Berbeda dengan cuaca panas biasa yang umumnya hanya berlangsung singkat, kubah panas dapat bertahan selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Dampaknya bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga kesehatan manusia, terutama bagi lansia, anak-anak, dan warga dengan penyakit tertentu yang rentan mengalami dehidrasi, kelelahan panas, hingga serangan panas (heatstroke).

Read Entire Article
Politics | | | |