Bisnis Emas BSN Melonjak 400 Persen, Bidik Portofolio Rp 1 Triliun

1 hour ago 2

Bisnis emas PT Bank Syariah Nasional (BSN) mencatat lonjakan signifikan hingga 400 persen hanya dalam satu bulan operasional perdana. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bisnis emas PT Bank Syariah Nasional (BSN) mencatat lonjakan signifikan hingga 400 persen hanya dalam satu bulan operasional perdana. Realisasi pembiayaan yang semula berada di kisaran Rp 17 miliar kini meningkat menjadi Rp 50 miliar seiring tingginya minat masyarakat terhadap investasi logam mulia.

Direktur Consumer Banking BSN Mochamad Yut Penta mengungkapkan pertumbuhan tersebut menjadi modal kuat bagi perseroan untuk melakukan diversifikasi portofolio ke segmen nonkredit pemilikan rumah (KPR).

“Kita sekarang saja baru sebulan sudah naik dari Rp 17 miliar menjadi Rp 50 miliar. Setahun sudah hampir sekitar 400 persen kenaikannya,” kata Yut Penta usai pembukaan BTN Expo 2026 di Hall B Jakarta International Convention Center (JICC), Rabu (28/1/2026) malam.

Melihat tren harga emas yang terus menguat, BSN mematok target ambisius untuk beberapa tahun ke depan. Bank yang mulai beroperasi penuh pada akhir Desember 2025 ini membidik pengelolaan portofolio bisnis emas dalam skala yang jauh lebih besar.

“Kami pada 2026 ingin meningkatkan hingga kurang lebih Rp 1 triliun,” ujarnya.

Penta menjelaskan strategi ekspansi bisnis emas akan diprioritaskan kepada basis nasabah yang sudah ada. Selain itu, BSN juga memperkuat kemitraan dengan para pemasok emas guna memastikan kualitas layanan tetap terjaga.

Selain emas, segmen KPR tetap menjadi tulang punggung perusahaan. BSN mencatat tren positif pada KPR subsidi yang kini mulai diminati kalangan milenial. Realisasi kredit di sektor ini tercatat tumbuh di atas 20 persen.

“Tahun lalu pertumbuhan terbesar kami ada di KPR subsidi. Ternyata generasi muda juga tertarik dengan prinsip syariah. Pertumbuhannya hampir di atas 20 persen untuk realisasi kredit,” jelas Penta.

Pada 2026, BSN memperoleh penambahan kuota pembiayaan rumah subsidi yang cukup signifikan. Peningkatan kuota tersebut akan diikuti penguatan kapasitas layanan serta efisiensi di sektor ritel.

“Tahun ini kami mendapatkan kuota 73.000 unit, sementara tahun lalu 59.000 unit. Strategi paling sederhana kami adalah meningkatkan kapasitas,” ucapnya.

Terkait rencana bisnis bank (RBB) secara keseluruhan, Penta menyebut perseroan masih dalam tahap koordinasi intensif dengan regulator.

“Kami belum bisa menyampaikan secara detail karena saat ini masih berproses dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan sedang dikaji serta direview,” katanya.

Read Entire Article
Politics | | | |