REPUBLIKA.CO.ID, KUDUS -- Pemerintah Kabupaten Kudus bersama Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) memperkuat pengelolaan sampah pada penyelenggaraan Festival Dandangan 2026. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi lonjakan volume sampah seiring meningkatnya jumlah pengunjung pada tradisi tahunan menyambut bulan suci Ramadhan tersebut.
Festival Dandangan yang merupakan warisan budaya peninggalan era Sunan Kudus kini tidak hanya diposisikan sebagai penggerak ekonomi lokal bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tetapi juga sebagai proyek percontohan manajemen limbah pada acara berskala besar.
Berdasarkan data 2025, jumlah kunjungan Festival Dandangan mencapai 38.000 orang per hari, melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berkisar 16.000 orang per hari.
Wakil Bupati Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi utama untuk menjaga kenyamanan publik di tengah tingginya mobilitas pengunjung. Ia menekankan keberhasilan festival diukur dari keseimbangan antara kemeriahan tradisi dan tanggung jawab lingkungan.
“Dandangan adalah wujud nyata komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kami mengajak semua pihak untuk menjaga kebersihan dengan memilah sampah pada tempat yang tersedia demi suasana yang aman dan nyaman,” ujar Bellinda, Senin (9/2/2026).
Sebagai bentuk dukungan konkret, BLDF menyediakan 60 unit tempat sampah yang tersebar di titik-titik strategis area festival. Tempat sampah tersebut dibagi menjadi tiga kategori utama, yakni organik, anorganik, dan residu. Sistem pemilahan ini bertujuan mempermudah proses pengolahan limbah pada tahap selanjutnya.
Director Communication Djarum Foundation Mutiara Diah Asmara menjelaskan inisiatif tersebut merupakan bagian dari gerakan “Kudus Asik” (Apik Resik) yang telah diinisiasi sejak 2022.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pelestarian tradisi dan kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan. Lingkungan yang bersih akan membuat UMKM bekerja lebih nyaman dan pengunjung betah,” kata Mutiara.
Selain penyediaan sarana fisik, kolaborasi ini juga melibatkan 20 mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) dan Universitas Muria Kudus (UMK) yang bertugas sebagai duta kebersihan. Para mahasiswa tersebut menjadi garda terdepan dalam mengedukasi pengunjung mengenai pentingnya membuang sampah sesuai kategori secara langsung di lokasi acara.
Persoalan sampah di Kudus menjadi perhatian serius mengingat pada 2024 kabupaten ini tercatat menyumbang sekitar 4,5 persen terhadap timbulan sampah nasional. Melalui program “Kudus Asik”, sampah organik yang terkumpul akan diangkut ke fasilitas Pusat Pengolahan Organik (PPO) yang memiliki kapasitas olah hingga 50 ton per hari untuk dijadikan pupuk organik.
Hingga kini, gerakan tersebut telah menjalin kemitraan dengan lebih dari 490 entitas, mulai dari rumah makan, hotel, hingga pasar tradisional di Kabupaten Kudus. Langkah integrasi ini diharapkan dapat mempercepat pencapaian target pemerintah menuju Zero Waste, Zero Emission (ZWZE) pada 2040.
Sinergi antara pemerintah daerah dan sektor swasta pada Festival Dandangan 2026 diharapkan menjadi ruang pembelajaran bersama bagi masyarakat untuk membangun budaya pilah sampah yang berkelanjutan, sekaligus menjaga kelestarian tradisi Kudus pada masa mendatang.

2 hours ago
5















































