Langit Papua yang Terkunci, Mengapa Bandara Perintis Terus Jadi Sasaran?

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di pagi yang seharusnya tenang, sebuah pesawat kecil Cessna Grand Caravan PK-SNR mendarat di landasan Danawage Koroway Batu, Boven Digoel, Papua Selatan. Pukul 11.05 WITA, 11 Februari 2026. Tiba-tiba rentetan tembakan mengarah ke badan pesawat. Penumpang berhamburan, berlari ke hutan di sisi berlawanan.

Pilot Kapten Egon Erawan dan kopilot Kapten Baskoro berusaha menyusul, tapi mereka tak sempat. Keduanya tergeletak di area runway, tak bernyawa. Penyerangan itu, seperti yang dikatakan Kapten Operasi Damai Cartenz Brigjen Faizal Ramadhani, bukan sekadar insiden. Itu adalah pesan: pesawat sipil, penumpang biasa, pilot yang hanya menjalankan tugas, menjadi sasaran.

Sejak saat itu, langit Papua Selatan terasa lebih sempit. Sebelas bandara perintis dan lapangan terbang kecil ditutup sementara. Koroway Batu, Bomakia, Yaniruma, Manggelum, Kapiraya, Iwur, Faowi, Dagai, Aboy, Teraplu, Beoga, nama-nama yang bagi kebanyakan orang tak pernah terdengar, tapi bagi warga di sana adalah urat nadi kehidupan.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan dengan suara yang hati-hati, “Salah satu sikap preventif kami sekarang adalah menutup beberapa bandara yang kami rasakan belum cukup memadai keamanannya, sehingga dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.”

Penutupan itu bukan hukuman bagi operator. Ditjen Hubud menegaskan: maskapai yang menghentikan penerbangan karena alasan keselamatan tidak akan disanksi. Lukman F. Laisa, Dirjen Perhubungan Udara, menambahkan: operator diberi kewenangan penuh untuk menilai risiko dan memutuskan sendiri.

Lima bandara lain: Kiwirok, Moanamani, Sinak di Ilaga, Agandugume di Ilaga, dan Illu, masih boleh beroperasi, tapi dengan pengamanan ketat dari TNI-Polri. Koordinasi terus berlangsung. Tapi hingga kini batas waktu pembukaan kembali belum ditentukan. Keamanan harus “kondusif” dulu, kata Menhub.

Ini bukan kali pertama. Agustus 2024, helikopter PT Intan Angkasa Air Service ditembak di Mimika, pilot Gleen Malcolm Conning tewas. Sebelumnya lagi, pesawat Susi Air disandera, pilot Philips Mark Marteens dibawa ke hutan selama bertahun-tahun. Pola yang sama: pesawat perintis, rute terpencil, target yang mudah, dan korban yang tak pernah meminta jadi bagian dari konflik. Di setiap kejadian, langit Papua menjadi lebih sunyi. Warga yang bergantung pada penerbangan kecil itu, untuk obat, beras, guru, dokter, harus menunggu lebih lama.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |