Ucapan Ramadhan Presiden Turki Erdogan: Panggilan Persatuan di Tengah Dunia yang Terpecah

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah yang baru dimulai, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyampaikan ucapan selamat yang lebih dari sekadar ritual tahunan.

Dari Kompleks Kepresidenan di Ankara pada Rabu (18/2/2026), ia berbicara melalui platform media sosial NSosyal tentang “hari-hari penuh berkah ketika pintu rahmat dibuka”, dan berdoa agar bulan ini “memperkuat persatuan dan kebersamaan kita”, bagi bangsa Turki, dunia Islam, hingga seluruh umat manusia, sebagaimana diberitakan TRT World.

Pesan itu sederhana, tapi bobotnya dalam: di saat konflik Gaza masih membara, ketegangan Timur Tengah tak kunjung reda, dan polarisasi mazhab serta politik terus mengoyak umat, Erdogan mengajak melihat Ramadhan sebagai momentum rekonsiliasi, bukan pembelahan.

Bagi negara-negara Muslim, pernyataan ini terasa seperti panggilan solidaritas di tengah fragmentasi global. Erdogan bukan sekadar mengucap selamat; ia mengingatkan bahwa “pintu rahmat dibuka” adalah kesempatan untuk menyatukan umat pada isu-isu bersama: kemiskinan, pendidikan, perdamaian, dan kemanusiaan.

Di Indonesia, Mesir, Pakistan, atau Bangladesh, pesan ini menginspirasi untuk mengintegrasikan nilai Ramadhan ke dalam kebijakan sosial, bantuan kemanusiaan, dialog antaragama, atau program pengentasan kemiskinan.

Erdogan, dengan ucapannya yang hangat namun tegas, seolah menempatkan Turki sebagai pengingat bahwa umat Islam tidak boleh terjebak dalam perpecahan mazhab atau politik; bulan suci ini harus menjadi jembatan, bukan jurang.

Arti yang lebih dalam terletak pada posisi Turki sebagai model kepemimpinan inklusif. Erdogan sering menonjolkan nilai rahmat dan harmoni untuk meredam polarisasi, baik antar mazhab Sunni-Syiah maupun faksi politik di dunia Islam. Di tengah krisis seperti pandemi, bencana alam, atau konflik regional, pesan seperti ini menjadi inspirasi bagi negara-negara Muslim yang sedang berjuang dengan ekonomi rapuh atau konflik internal.

Dari Ankara, Erdogan mengajak umat melihat Ramadhan sebagai kesempatan membangun solidaritas global, terutama bagi negara-negara yang merasa terpinggirkan di panggung internasional. Ini bukan sekadar retorika; ini adalah manifestasi soft power Turki yang kian nyata.

Turki di bawah Erdogan memang telah menjadi lebih berpengaruh dalam geopolitik dunia Muslim. Strategi diplomasi agamanya agresif namun moderat: Ankara memposisikan diri sebagai pemimpin alternatif bagi dunia Sunni yang lebih toleran dibandingkan Arab Saudi.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |