REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di malam pertama Ramadhan, ketika azan magrib baru saja reda, surau-surau kecil di Lut Tawar, Aceh Tengah, kembali hidup. Banjir bandang November lalu telah meratakan banyak rumah, meninggalkan gelondongan kayu dan lumpur kering yang masih melingkari dinding.
Namun, di surau Miftahul Jannah, kampung Toweren Uken, warga sudah berkumpul lagi. Ruang 10x10 meter itu dipenuhi sajadah baru, dan shalat tarawih berlangsung seperti biasa, khusyuk, tanpa banyak kata. Sungai di dekatnya naik debit karena hujan deras, jalan ke Takengon longsor lagi, tapi orang-orang datang. Mereka pulang ke rumah yang baru dibersihkan, membawa perasaan campur aduk: senang karena Ramadhan tiba, sedih karena ingatan bencana masih basah.
Inen Juraidah, seorang ibu penyintas, berkata dengan suara pelan, “Senang aja menyambut bulan Ramadan. Alhamdulillah, senang aja tapi kan ada sedihnya, karena kami ini kan baru mengalami ini, ini pun baru bersih rumah kami.”
Tradisi Lut Tawar tetap: awal Ramadhan tarawih di surau terdekat, menjelang akhir baru pindah ke masjid besar. Di Toweren, beberapa surau sudah bisa dipakai lagi setelah warga membersihkan sendiri. “Alhamdulillah ada banyak orang yang mengikuti tarawih,” Jasman, salah seorang warga Sederhana saja kalimat itu, tapi di baliknya ada usaha keras membersihkan lumpur, mengangkat kayu, dan membentangkan sajadah baru.
Di Aceh Tamiang, Masjid Darul Mukhlisin Tanjung Karang juga bercerita serupa. Masjid itu pernah diterjang ribuan gelondongan kayu saat banjir bandang akhir November. Halaman penuh lumpur coklat, debu beterbangan setiap disapu santri. Tapi Rabu malam, jamaah kembali memenuhi ruang shalat. Tausiah dimulai pukul 20.30 setelah Isya, lalu tarawih perdana berlangsung.
Pimpinan Ponpes Darul Mukhlisin, Mulkana mengatakan, kerjaan yang seharusnya dikejar dalam setahun-dua tahun itu selesai dalam dua bulan kemarin. "Jadi, kita ini tidak ada lagi dalam ruangan mana pun tidak ada lumpur lagi,” kata Pimpinan Ponpes Darul Mukhlisin, Mulkana
Aktivitas masjid pulih sejak 29 Januari, kurang lebih dua bulan setelah bencana. Santri berjumlah 205 orang yang terdiri dari 103 putra, 102 putri, sudah kembali setelah libur panjang 75 hari. Mereka membersihkan, menyapu, membentang sajadah baru. Ada bantuan mukena, sarung, Al-Qur’an, peci, baju koko. Dan tarhib Ramadhan, tradisi menyambut bulan suci dengan motivasi dan nasihat agar santri memaksimalkan ibadah.
Di Desa Huta Godang, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Masjid Raya Subulul Ubudiyah berdiri kokoh di tengah puing-puing. Banjir bandang November lalu meratakan bangunan di sekitarnya, tapi masjid ini selamat. Rabu malam, penyintas yang kembali ke rumah atau masih mengungsi memilih tarawih di sana.

3 hours ago
5















































