
Oleh : Rayhan Mubarok, Lahir di Jakarta. Pernah menempuh studi di Pondok Modern Darussalam Gontor dan Universitas Al-Azhar Kairo. Relawan di Sekolah Master Depok
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nama Mustafa Kemal Atatürk di Indonesia sering kali hidup bukan sebagai fakta sejarah, melainkan sebagai cerita yang sudah lebih dulu diputuskan ujungnya. Ia tidak diposisikan sebagai tokoh yang perlu dipahami, tetapi sebagai simbol kebencian yang harus segera dijatuhi vonis: penghancur Islam yang diazab Tuhan.
Saya mendengar semua cerita itu jauh sebelum menginjakkan kaki di Turki. Tentang makam yang berbau busuk. Tentang jasad yang rusak. Tentang azab yang konon dapat disaksikan siapa saja yang mau datang.
Maka saya datang. Bukan untuk membela Atatürk, melainkan untuk melihat dengan mata sendiri.
Apa yang Saya Lihat di Anıtkabir
Makam Mustafa Kemal Atatürk berada di Anıtkabir, Ankara—sebuah kompleks kenegaraan yang terbuka, tertib, dan dijaga dengan disiplin tinggi. Tempat itu tidak sunyi dari manusia. Setiap hari ia dipenuhi pengunjung: warga lokal, pelajar, turis, delegasi asing, juga Muslim dari berbagai negara.
Saya berjalan di pelatarannya, memasuki ruang-ruang yang terbuka untuk umum, memperhatikan sekeliling tanpa prasangka mistis. Tidak ada bau busuk. Tidak ada tanda keanehan. Tidak ada suasana azab seperti yang sering diceritakan dengan nada meyakinkan di negeri saya sendiri.
Yang ada hanyalah sebuah makam tokoh negara, dirawat secara resmi, bersih, dan menjadi bagian dari sejarah nasional Turki. Di titik itu saya sadar: sebagian cerita yang beredar di Indonesia tidak lahir dari pengalaman, tetapi dari pengulangan.
Cerita yang Diulang, Lalu Dipercaya
Narasi tentang “makam bau” dan “jasad rusak” ternyata tidak memiliki satu pun rujukan sejarah yang dapat diverifikasi. Tidak ada laporan media kredibel. Tidak ada catatan saksi yang bisa diuji. Yang ada hanyalah cerita dari mulut ke mulut, dari mimbar ke mimbar, dari video ke video.
Dalam dunia ilmu, saya diajarkan satu hal sederhana: pengulangan bukan bukti.
Dalam agama, saya diajarkan hal yang lebih tegas: dusta tetaplah dosa, meski dibungkus niat baik.
Mitos Azab sebagai Bahasa Kebencian
Sepanjang sejarah, saya menemukan satu pola yang terus berulang: ketika sebuah tokoh tidak disukai secara ideologis, maka mitos azab diciptakan untuk menutup ruang diskusi. Makam bau. Kematian hina. Jasat ditolak bumi.
Ini bukan tradisi keilmuan, dan bukan pula metode para ulama besar. Ini adalah bahasa propaganda, bukan bahasa kebenaran.
Ironisnya, umat yang paling sering menyerukan tabayyun justru kerap paling cepat membagikan cerita yang tidak pernah mereka lihat sendiri.
Atatürk Tetap Bisa Dikritik—Tanpa Dongeng
Mengkritik Mustafa Kemal Atatürk tetap sah. Bahkan perlu. Ia memang membubarkan institusi khilafah Utsmaniyah, mendorong sekularisasi negara secara agresif, dan membatasi simbol-simbol keagamaan di ruang publik.
Namun setelah berdiri di tempat itu, satu hal menjadi jelas bagi saya: sejarah tidak bekerja dengan logika azab instan. Ia bergerak melalui konteks, tekanan geopolitik, trauma runtuhnya kekaisaran, dan pilihan-pilihan pahit yang lahir dari situasi yang nyaris tanpa opsi baik.
Menggantikan seluruh kompleksitas itu dengan cerita “makam bau” bukan keberanian iman—melainkan kemalasan berpikir.
Mengapa Cerita Ini Laris di Indonesia
Jawabannya tidak rumit, hanya menyakitkan:
• Literasi sejarah Timur Tengah rendah
• Ceramah emosional lebih digemari daripada kajian serius
• Kita menyukai kisah hitam-putih karena ia membebaskan kita dari berpikir
Akhirnya, agama yang seharusnya memandu akal justru sering dipakai untuk melampiaskan kemarahan kolektif. Padahal kebenaran tidak pernah membutuhkan kebohongan untuk berdiri tegak.
Kejujuran sebagai Bentuk Iman
Islam tidak pernah meminta saya mencintai Mustafa Kemal Atatürk. Islam hanya meminta saya satu hal: jujur. Jujur pada apa yang saya lihat. Jujur pada apa yang bisa diverifikasi.
Jujur bahwa tidak semua tokoh yang kita benci harus kita hukum dengan cerita rekaan. Sebab ketika kebohongan dipakai atas nama iman, yang rusak bukan hanya sejarah tetapi martabat agama itu sendiri.
Penutup
Mustafa Kemal Atatürk akan tetap menjadi tokoh kontroversial. Itu tidak berubah, meski saya telah berdiri di depan makamnya.
Namun satu hal yang pasti: kontroversi tidak boleh dirawat dengan mitos.
Jika umat ingin dewasa, ia harus berani mengganti cerita-cerita murahan dengan kritik yang beradab, argumentasi yang jujur, dan iman yang tidak gentar berhadapan dengan fakta—meski pahit.
Karena agama yang kuat tidak lahir dari kebencian yang dibesarkan,
melainkan dari kejujuran yang dipertahankan.

2 hours ago
5














































