loading...
Negara-negara Arab cari model pakta pertahanan baru yang terbaik. Foto/X
RIYADH - Meskipun konflik antara AS-Israel dan Iran telah mempertegas perpecahan yang sudah ada di antara negara-negara Teluk, mereka juga telah bersatu dan mulai menjajaki model keamanan baru. Itu diungkapkan Muhanad Seloom, seorang peneliti senior di Middle East Council of Global Affairs.
"Model saat ini"—yang melibatkan keberadaan pangkalan AS di kawasan tersebut sebagai imbalan atas jaminan keamanan—"telah teruji dalam situasi konflik nyata dan ternyata tidak memberikan hasil sesuai kesepakatan awal para pihak," ujarnya kepada Al Jazeera.
Sejak saat itu, beberapa negara telah menjalin "perjanjian keamanan dan pertahanan bilateral, seperti Qatar dengan NATO, Qatar dengan Turki, serta Kuwait dengan Pakistan," katanya, seraya menambahkan bahwa Arab Saudi, Turki, dan Pakistan kini memiliki kesepakatan trilateral. Namun, jenis perjanjian baru ini masih perlu diuji efektivitasnya.
Negara-negara Teluk juga terdampak secara berbeda oleh konflik ini, jelasnya. Perekonomian UEA, Kuwait, Bahrain, dan Qatar mengalami pukulan berat, sementara "Oman dan Saudi Arabia tidak terlalu terdampak parah," ujarnya.
"Namun secara keseluruhan, menurut saya peristiwa sejak Juni lalu memperjelas bagi semua negara ini bahwa mereka tidak hanya berada di garis depan dan medan pertempuran, tetapi juga menjadi pihak yang menanggung beban finansial terberat akibat konflik ini," tambah Seloom.
Di saat Washington dan Teheran bergerak menuju kesepakatan gencatan senjata jangka panjang, negara-negara Teluk kemungkinan besar akan mencari solusi keamanan jangka panjang yang baru begitu konflik di kawasan mereka—yang bukan mereka mulai—akhirnya berakhir.
Perkembangan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan serangan baru terhadap Iran, dengan alasan bahwa kesepakatan dengan Teheran sudah di depan mata, serta menyatakan bahwa "waktu" dan "tempat" penandatanganan akan segera diumumkan.
Di Teheran, para pejabat tampak lebih berhati-hati; seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pemerintah masih mengkaji usulan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Washington. Komentar lanjutan dari Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengisyaratkan adanya kesepakatan yang sedang dibuat, dan perkembangan dalam beberapa hari mendatang dapat memiliki implikasi penting bagi keamanan kawasan secara kolektif.
Menurut Council on Foreign Relations, Amerika Serikat mengoperasikan fasilitas militer di setidaknya 19 lokasi di seluruh kawasan MENA (Timur Tengah dan Afrika Utara), termasuk pangkalan permanen di Bahrain, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Antara 40.000 hingga 50.000 tentara AS ditempatkan di kawasan tersebut sebelum perang melawan Iran dimulai.
Kemitraan erat antara AS dan negara-negara Teluk ini tampaknya melindungi negara-negara tersebut dari konflik yang melanda wilayah lain di kawasan itu, namun selama empat bulan terakhir, negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah fasilitas militer AS telah menjadi sasaran serangan Iran.
"Jika ada cara untuk menggambarkan model keamanan yang berlaku di kawasan ini sejak tahun 1980-an, konsep kemitraan keamanan adalah yang paling tepat untuk merangkumnya," ujar Mahjoub Al-Zuwairi, seorang akademisi dan pakar politik Timur Tengah.


















































