REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA — Olah tempat kejadian perkara (TKP) penyerangan kelompok separatis bersenjata di Bandara Koroway Batu, Boven Digoel, Papua Selatan menemukan sedikitnya 13 lubang tembakan di badan pesawat Smart Aviation. Satgas Damai Cartenz juga menemukan selongsong-selongsong peluru yang digunakan dalam penyerangan itu. Dari penyelidikan sementara, sedikitnya ada 20 orang pelaku penyerangan pada peristiwa Rabu (12/2/2026) itu.
Kepala Operasi Damai Cartenz Brigadir Jenderal (Brigjen) Faizal Ramadhani mengatakan, penyerangan yang dilakukan kelompok separatis bersenjata itu terencana. Karena diketahui, para penyerbu mengawali penyerangan di areal penginapan bandara. “Diperkirakan 20 orang pelaku penyerangan muncul dari arah penginapan bandara dengan membawa senjata api dan melepaskan tembakan ke arah pesawat Smart Air yang melakukan pendaratan,” kata Faizal melalui siaran pers yang diterima wartawan di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Kata Faizal, para penyerang itu masuk ke dalam lintasan pacu pesawat yang sudah mendarat. Dari jarak 200 meter, kata Faizal, tembakan dilepaskan ke arah pesawat setelah para penumpang turun. Ada sekitar 13 penumpang dalam pesawat sipil perintis itu, termasuk satu di antaranya adalah bayi.
“Melihat situasi tersebut, para penumpang panik dan berlarian menyelamatkan diri,” kata Faizal. Pilot Kapten Egon Erawan dan Kopilot Kapten Baskoro yang masih berada di dalam kabin pesawat, sempat berusaha kembali menghidupkan pesawat untuk melanjutkan penerbangan.
Pesawat itu, mulanya terbang dari Bandara Tanah Merah dan mendarat di Bandara Koroway Batu untuk selanjutnya terbang ke Dekai, Yahukimo. Tapi upaya untuk kabur dengan membawa pesawat itu kandas setelah kelompok penyerbu menembaki badan pesawat. Pada situasi tersebut, Kapten Egon Erawan dan Kapten Baskoro turun dari pesawat dan menuju ke landasan ikut berlari mengejar kawanan penumpang yang berhamburan menyelamatkan diri.
“Pilot dan Kopilot turut berlari ke arah penumpang yang menyelamatkan diri ke arah perkampungan warga yang ada di sekitar bandara,” ujar Faizal. Akan tetapi, upaya menyelematkan diri itu kandas. Karena sekitar 20-an separatis dengan senjata api juga menembaki mereka yang berlari menyelamatkan diri itu. “Namun pilot dan kopilot itu dikejar para pelaku penyerangan,” kata Faizal.
Kapten Egon dan Kapten Baskoro pun tertangkap, lalu kembali dibawa ke landasan pacu. “Tidak lama kemudian, korban yang ditangkap tersebut dibawa ke area landasan, lalu dilakukan penembakan,” ujar Faizal. Kapten Egon Erawan dan Kapten Baskoro meninggal di tempat. Dan para separatis bersenjata itu pun membiarkan para penumpang selamat.
Setelah kejadian tersebut, padar Rabu (11/2/2026) dan Kamis (12/2/2026) pasukan gabungan Satgas Damai Cartenz bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengerahkan sebanyak 32 personel khusus untuk kembali menguasai bandara dan evakuasi korban.
Pada hari kedua setelah kejadian, penguasaan kembali objek vital itu baru berhasil dilakukan. Evakuasi jenazah Kapten Egon Erawan dan Kapten Baskoro pun baru dapat dilakukan. Akan tetapi, penguasaan atas bandara itu tak berujung pada penangkapan satupun kelompok separatis pelaku penyerbuan itu. Malah sebaliknya, pengerahan pasukan tempur gabungan itu memicu gelombak pengungsian.
Dari laporan yang disampaikan Satgas Damai Cartenz, sebanyak 39 warga yang berada di wilayah Koroway memilih mengungsi ke Desa Kepi di Kabupaten Mappi dan juga ke Distrik Senggo. Akses menuju ke dua wilayah tersebut hanya dapat dilalui menggunakan angkutan udara maupun sungai. Setelah penyerangan itu, aktivitas di Bandara Koroway belum pulih dan penerbangan ditutup sementara. Alhasil, para warga mengungsi melalui sungai menggunakan perahu kecil atau katinting.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz Komisaris Besar (Kombes) Yusuf Sutedjo mengatakan, dari identifikasi para pelaku penyerangan, diyakini dari kelompok separatis bersenjata yang dipimpin Elkius Kobak dari wilayah Yahukimo. “Berdasarkan hasil pendalaman awal, aparat keamanan menduga (penyerangan) itu dilakukan kelompok bersenjata yang mengatasnamakan KKB Yahukimo, termasuk kelompok yang dikenal dengan sebutan Batalion Kanibal dan Batalion Semut Merah yang dipimpim Elkius Kobak,” kata Yusuf.
Penyerangan terhadap pesawat-pesawat sipil yang dilakukan kelompok separatisme di Papua ini bukan kali yang pertama. Dan bukan cuma kali ini penyerangan armada-armada udara sipil itu menelan korban jiwa. Pada Agustus 2024 lalu, kelompok separatis bersenjata juga menyerang helikopter sipil milik PT Intan Angkasa Air Service yang mendarat di Bandara Mimika di Distrik Alama.
Pilot Gleen Malcolm Conning juga meninggal dunia dalam kondisi yang tragis dalam penyerangan tersebut. Penyerangan juga pernah dialami pesawat perintis Susi Air yang berujung pada penyanderaan Pilot Kapten Philips Mark Marteens.

2 hours ago
5















































