Purbaya Janji Bakal Lebih Kompak dengan Bank Indonesia Demi Jaga Rupiah, Ini Penjelasannya

2 hours ago 8

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan saat konferensi pers APBN KiTa edisi Juni 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meyakini penguatan sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter mampu mengembalikan kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional serta mendorong penguatan nilai tukar rupiah.

Purbaya dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (6/6/2026), menyampaikan sinergi yang kuat antara otoritas fiskal dan moneter menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas, baik pada tingkat makro maupun mikro.

Sinkronisasi yang dimaksud meliputi peningkatan daya tarik imbal hasil instrumen keuangan domestik guna mendorong kembali masuknya aliran modal asing (inflow), serta menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan melalui pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di Bank Indonesia. Langkah tersebut juga disertai peningkatan remunerasi yang dibayarkan BI kepada pemerintah.

“Sinergi penuh itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar terhadap nilai tukar rupiah, sehingga rupiah akan menguat secara signifikan dan tidak akan melemah lagi ke level yang lebih tinggi dari sekarang,” kata Purbaya.

Ia menegaskan tujuan utama penguatan koordinasi kebijakan tersebut bukan semata-mata menjaga stabilitas nilai tukar, melainkan memastikan dampak positifnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Purbaya mencontohkan, pelemahan rupiah selama ini turut menekan pelaku usaha kecil yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kondisi tersebut menyebabkan biaya produksi meningkat dan pada akhirnya berdampak pada harga jual produk di tingkat konsumen.

"Saya dengar penjual tempe, penjual tahu sudah tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga karena bahan bakunya masih diimpor. Yang jelas itu kan menaikkan cost of production mereka,” ujarnya.

Ia optimistis, dengan kebijakan yang lebih terkoordinasi dan efektif, stabilitas nilai tukar rupiah akan semakin terjaga. Dampaknya, tekanan biaya produksi dapat berkurang sehingga harga berbagai kebutuhan masyarakat menjadi lebih terkendali.

“Dengan kebijakan yang lebih baik, kita akan melihat rupiah yang lebih stabil sehingga para pedagang tahu dan tempe serta ibu-ibu rumah tangga juga bisa merasakan harga yang lebih baik dan tidak terbebani lagi oleh biaya hidup. Tidak mengalami kenaikan beban hidup yang terlalu signifikan,” tutur Purbaya.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |