Pengunjung mengamati lukisan koleksi Situs Persada Soekarno, Desa Pojok, Kediri, Jawa Timur, Kamis (28/10/2021). Rumah masa kecil Bung Karno tersebut sebagai wahana edukasi sejarah sekaligus menyediakan tempat diskusi dan tempat pertunjukan seni budaya untuk umum.

Oleh: Dr I Wayan Sudirta SH M H, anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- "Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca benggala dari pada masa yang akan datang."
— Ir Soekarno
Fajar menyingsing di Surabaya pada 6 Juni 1901, menandai lahirnya seorang bayi laki-laki yang kelak akan mengubah garis takdir jutaan manusia di Nusantara.
Lahir pada saat fajar merekah, ia dijuluki Putra Sang Fajar. Dialah Koesno Sosrodihardjo, yang dunia kemudian kenal dengan nama Soekarno, Bapak Bangsa, Proklamator, dan penyambung lidah rakyat Indonesia.
Julukan "Putra Sang Fajar" bukanlah sekadar epitet puitis yang disematkan untuk meromantisasi sejarah, melainkan sebuah penanda takdir yang mengakar pada fakta kelahiran dan kedalaman filosofis perjalanannya.
Secara harfiah, Koesno Sosrodihardjo lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901, tepat pada saat fajar merekah dan matahari baru saja merobek tirai malam.
Dalam kepercayaan kultural Jawa dan Bali yang mengalir deras dalam nadinya, kelahiran di ambang transisi antara gelapnya malam dan terangnya pagi bukanlah sebuah kebetulan.
Hal tersebut diyakini sebagai tanda kosmis, sebuah garitan takdir bahwa sang anak akan memikul beban sejarah yang besar.
Dalam otobiografinya, Bung Karno mengenang momen spiritual bersama ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
8

















































