Amerika Tinggalkan Pangkalan Terbesarnya di Qatar

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pangkalan Udara Al Udeid, yang selama ini dijuluki "jantungnya" Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) di Timur Tengah, tiba-tiba tampak berbeda dalam citra satelit beberapa hari terakhir.

Landasan pacu yang biasanya padat dengan pesawat angkut militer dan jet tempur kini lebih lengang. Sumber anonim di Pentagon membenarkan apa yang dilihat kamera satelit: Washington menarik ratusan personelnya dari fasilitas terbesar di kawasan itu, mengosongkan pangkalan di saat ketegangan dengan Iran mencapai titik didih baru.

Penarikan ini bukan sekadar taktik. Ia adalah pengakuan diam-diam dari militer AS bahwa ancaman Iran bukan lagi sekadar retorika. Teheran, melalui surat kerasnya kepada PBB, telah menjadikan semua pangkalan Amerika di kawasan sebagai "target sah." Sebuah peringatan yang kali ini terdengar berbeda, lebih nyata, karena Iran sudah membuktikan bahwa mereka mampu dan mau menembus pertahanan terbaik AS di pangkalan itu.

Bukan Serangan Pertama: Ketika Rudal Iran Menghantam Al Udeid

Ketegangan yang memuncak saat ini tidak lahir dari ruang hampa. Pada 23 Juni 2025, dunia dikejutkan oleh deru sirene yang meraung-raung di Doha. Iran meluncurkan operasi balasan yang dinamai "Basharat-e-Fath" (Kabar Gembira Kemenangan) sebagai respons atas serangan AS ke fasilitas nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan yang menewaskan sejumlah ilmuwan nuklir Iran.

Yang terjadi selanjutnya adalah pukulan telak bagi reputasi sistem pertahanan udara AS. Meskipun klaim resmi Pentagon dan Qatar menyebut 13 rudal berhasil dicegat, satu rudal jelas-jelas lolos dan menghantam sebuah fasilitas kritis di pangkalan.

Foto-foto satelit yang beredar luas mengonfirmasi kerusakan parah pada kubah geodesik putih yang menyimpan Modernization Enterprise Terminal (MET), pusat saraf komunikasi aman AS di kawasan itu. Peralatan senilai 15 juta dolar AS itu hancur.

Media AS sendiri akhirnya mengakui apa yang coba ditutup-tutupi. Newsweek melaporkan bahwa untuk menghentikan 14 rudal Iran, sistem Patriot harus menembakkan 30 rudal pencegat. Sebuah pertukaran yang secara matematis dan finansial sangat timpang: Iran menembakkan rudal yang relatif murah, sementara AS harus mengeluarkan 111 juta dolar AS hanya dalam hitungan menit untuk melindungi pangkalan yang tetap saja terkena.

Namun yang paling memalukan bagi Washington mungkin bukan kerusakan fisiknya, melainkan fakta bahwa serangan itu telah diumumkan sebelumnya. Iran, seperti halnya saat serangan balasan atas terbunuhnya Jenderal Qassem Soleimani di pangkalan Al Asad, Irak pada 2020, kembali memberi peringatan dini kepada Qatar dan AS. "Ini bukan perang kejutan. Ini adalah pesan bahwa mereka bisa menyerang kapan pun meskipun kita tahu," ujar seorang analis militer yang pernah bertugas di kawasan tersebut.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |