REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Langit mendung menggantung di atas Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, pada sore pembuka Pasar Ramadhan Jogokariyan ke-22. Namun, awan tak mampu menahan langkah warga yang berbondong-bondong memadati kompleks masjid. Di tengah ancaman gerimis, dapur tetap ngebul dan 3.800 porsi opor ayam telur tersaji hangat untuk berbuka puasa hari pertama (18/2/2026).
Alih-alih sekadar pasar takjil, Jogokariyan sore itu terasa seperti 'ruang makan raksasa' yang menyatukan siapa saja—tanpa sekat. Aroma semur yang manis-gurih bercampur dengan riuh sapa dan tawa anak-anak yang berlarian kecil di pelataran. Sejak sebelum waktu berbuka, antrean sudah mengular rapi, sebagian warga menggenggam kupon, sebagian lain menunggu dengan sabar sambil berbincang.
Yang membuat pembukaan tahun ini berbeda ada beberapa hal, di antaranya tema yang diusung berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tema yang diangkat tahun ini yaitu 'Berkah Berjamaah'.
Menariknya, ada peningkatan porsi sebanyak 300 piring dari tahun sebelumnya sehingga menjadi 3.800 porsi per hari. Selain itu, sebelum acara dimulai, terdapat penampilan dari nada-nada angklung kelompok ibu-ibu PKK setempat. Tiga lagu dibawakan sebagai pembuka, menciptakan suasana syahdu yang kontras dengan cuaca sendu.
“Kami menyadari Masjid Jogokariyan bisa berdiri seperti sekarang itu karena keberkahan dari berjamaah, bersama-sama bersatu persatuan ukhuwah, bukan hasil dari kerja individu," jelas salah satu pengurus takmir Masjid Jogokariyan.
Acara kemudian resmi dibuka oleh MC dan dilanjutkan dengan sambutan dari sejumlah pihak. Namun, di balik seremoni, denyut utama Pasar Ramadhan justru terasa di dapur dan di barisan relawan.
Jumlahnya yang cukup banyak dengan estimasi 500 hingga 600-an relawan. Mereka bergerak cepat, memastikan ribuan porsi tersalurkan tepat waktu. Setiap piring saji bukan sekadar makanan, melainkan simbol gotong royong yang telah menjadi tradisi tahunan.
“Ramadhan Jogokariyan menghadirkan ruang silaturahmi sekaligus ruang berbagai rezeki bagi pelaku UMKM dan warga masyarakat sekitar. Pemerintah Yogyakarta tentunya mengapresiasi kerja keras panjian dan takmir yang menampilkan kegiatan ini dengan sungguh-sungguh," jelas Dedi Budiono sebagai perwakilan dari Wali Kota Yogyakarta.
Memasuki tahun ke-22, Pasar Ramadhan Jogokariyan bukan hanya tentang jumlah porsi yang fantastis. Ia adalah cerita tentang konsistensi—tentang bagaimana sebuah masjid menjelma menjadi pusat distribusi kebaikan. Mendung boleh datang, tetapi kehangatan berbagi selalu menemukan jalannya.
Di Jogokariyan, Ramadhan tidak hanya disambut dengan doa, tetapi juga dengan 3.800 porsi harapan yang dibagikan setiap senja.

3 hours ago
4















































