Berjuluk Bulan Nabi, Berikut Peristiwa Besar yang Terjadi Selama Sya’ban

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, Bulan Syaban menempati posisi kedelapan dalam kalender Hijriah. Dalam tradisi Islam, bulan ini bukan sekadar pengantar menuju Ramadhan, melainkan memiliki kedudukan khusus sebagai bulan yang sangat dicintai Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW bersabda,  

رَجَبُ شَهْرُ اللهِ، وَشَعْبَانُ شَهْرِي، وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِي

Artinya: “Rajab adalah bulan Allah, Syaban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.” (HR Imam as-Suyuthi).

Hadis ini kerap dijadikan dasar oleh para ulama untuk menegaskan keistimewaan Syaban dibanding bulan-bulan lainnya. Tak hanya itu, berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam juga terjadi di bulan Syaban. Sedikitnya empat peristiwa besar yang menguatkan kemuliaan bulan ini:

Pertama: Perubahan arah kiblat

Peristiwa monumental pertama yang terjadi di bulan Syaban adalah perubahan arah kiblat umat Islam. Pada masa awal Islam, kaum Muslimin melaksanakan sholat menghadap Baitul Maqdis di Palestina selama sekitar 17 bulan lebih.

Perintah berpindah kiblat ke Ka’bah di Makkah turun pada pertengahan bulan Syaban, tepatnya pada 15 Syaban tahun kedua Hijriyah. Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam pembentukan identitas umat Islam. 

Allah SWT berfirman dalam Alquran: 

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ

Artinya: “Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu.” (QS Al-Baqarah: 144) 

Sejarawan Islam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menyebut perubahan kiblat sebagai bentuk pemantapan umat Islam agar berdiri mandiri secara spiritual dan simbolik, terlepas dari tradisi keagamaan sebelumnya.

Kedua: Penetapan ajal dan catatan takdir manusia

Syaban juga dikenal sebagai bulan di mana ketentuan ajal manusia dicatat. Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa ketetapan Allah SWT tidak terikat oleh ruang dan waktu. Semua berjalan sesuai kehendak-Nya.

Allah SWT berfirman: 

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Artinya: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS asy-Syura: 11).

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Sayidah Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa pada bulan Syaban Allah mencatat siapa saja yang akan wafat dalam satu tahun ke depan (HR Abu Ya’la). Karena itu pula, Nabi SAW memperbanyak puasa di bulan ini, sebagai bentuk kesiapan spiritual menghadap Allah SWT.

Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan, kesadaran akan dicatatnya amal dan ajal seharusnya mendorong seorang Muslim untuk memperbanyak taubat dan amal saleh, terutama di bulan Syaban. 

Malam Nisfu Syaban (ilustrasi)

Read Entire Article
Politics | | | |