UNICEF salurkan perlengkapan sekolah ke Gaza usai lama terhenti.
REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA, – UNICEF telah mendistribusikan ribuan paket rekreasi dan sekolah ke Jalur Gaza dalam beberapa hari terakhir, menandai potensi titik balik setelah hampir dua tahun pembatasan terhadap material pendidikan.
Juru Bicara UNICEF, James Elder, mengumumkan bahwa lebih dari 4.400 paket rekreasi dan 240 paket sekolah telah dikirim ke Gaza. Selain itu, UNICEF berencana menyalurkan 2.875 paket rekreasi dan sekitar 2.500 paket sekolah dalam satu kotak hingga akhir pekan ini, dengan total pengiriman melampaui 11.000 paket.
Paket sekolah dalam satu kotak dirancang agar kegiatan belajar mengajar dapat segera dimulai, berisi alat tulis, buku latihan, papan tulis kecil, dan alat bantu mengajar seperti jam dan globe. Elder menekankan bahwa ini adalah perkembangan positif setelah dua tahun kesulitan bagi anak-anak dan organisasi yang berupaya menjalankan pendidikan tanpa material memadai.
Di seluruh Jalur Gaza, lebih dari 700.000 anak usia sekolah tidak mendapatkan pendidikan formal sejak Oktober 2023. UNICEF mendukung lebih dari 135.400 anak di lebih dari 110 ruang belajar di Gaza. Dalam fase pertama program Back to Learning, UNICEF bersama mitra menargetkan peningkatan jumlah anak mendapatkan pembelajaran tatap muka dari 135.400 menjadi 336.000 anak hingga 2026.
Situasi pendidikan di Gaza menghadapi tantangan besar, dengan lebih dari 90 persen sekolah rusak atau hancur dan 60 persen anak tidak memiliki akses pendidikan tatap muka. Elder menggambarkan kondisi tersebut sebagai ancaman bagi satu generasi penuh akibat serangan terhadap sistem pendidikan selama hampir dua setengah tahun.
Menanggapi klaim pemimpin Israel Benjamin Netanyahu tentang fokus gencatan senjata pada demiliterisasi, Elder menegaskan bahwa ini adalah kebutuhan kemanusiaan, bukan tonggak politik. Menurutnya, tahap kedua gencatan senjata memungkinkan perbaikan besar, termasuk di sektor tempat tinggal dan pendidikan.
Elder juga menyoroti kondisi putus asa keluarga Palestina yang terpisah di penyeberangan Rafah, yang tetap tertutup meskipun ada janji pembukaan setelah pemulangan jenazah sandera Israel. Hingga kini, lebih dari 71.600 orang tewas dan 171.300 terluka dalam serangan Israel sejak Oktober 2023, meskipun gencatan senjata telah diberlakukan.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

2 hours ago
2















































