REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisi X DPR mengapresiasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) atas kinerjanya pada tahun 2025 di bawah kepemimpinan Arif Satria, serta berbagai rencana kerja strategis 2026. Salah satunya ialah keterlibatan BRIN dalam penanganan bencana di Sumatra dan Aceh, melalui Task Force Tim Cepat Tanggap Bencana.
Ketua Komisi X Hetifah Sjaifudin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada Selasa (27/1/2026) mengatakan, kinerja BRIN memberi semangat dan energi baru bagi Komisi X.
"Kami melihat pemanfaatan riset sangat penting. Termasuk riset atau inovasi yang dihasilkan masyarakat, untuk kemudian mendekatkan bahwa riset dan inovasi bukan hal yang jauh dari persoalan yang perlu solusi cepat yang dibutuhkan masyarakat sehari-hari," ujarnya.
Apresiasi tersebut sejalan dengan berbagai penguatan ekosistem riset dan inovasi yang tengah dikembangkan BRIN, antara lain melalui Rumah Inovasi Indonesia sebagai wadah kolaborasi lintas pemangku kepentingan, serta Rumah Inovasi Daerah yang mendorong pemanfaatan hasil riset sesuai kebutuhan dan potensi wilayah. Inisiatif ini diarahkan agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diterapkan secara nyata di tengah masyarakat.
Selain itu, BRIN juga menjalankan Agenda Riset dan Inovasi Nasional sebagai acuan bersama dalam penyusunan dan pelaksanaan riset, sekaligus memperkuat sinergi dengan kementerian, lembaga, perguruan tinggi, industri, dan pemerintah daerah. Upaya ini diperkuat melalui program BRIN Goes to Stakeholders, yang mencakup BRIN Goes to Campus, BRIN Goes to School, dan BRIN Goes to Industry, guna memperluas jejaring, literasi, serta pemanfaatan iptek di berbagai sektor.
Kendati demikian, evaluasi menyeluruh juga dilakukan sebagai dasar perbaikan kebijakan dan penguatan kelembagaan ke depan, agar lebih terarah, adaptif, inklusif, serta memberi dampak nyata pada pembangunan nasional dan kesejahteraan masyarakat.
"Saya juga melihat keterlibatan BRIN melalui Task Force Tim Cepat Tanggap perlu diperkuat lagi. Ini masih panjang, Bu Esti mengunjungi beberapa daerah bencana, menunjukkan masih perlu solusi inovatif untuk percepatannya. Jadi kami masih mengandalkan BRIN untuk itu," ujarnya.
Sementara itu, Anggota Fraksi Demokrat Komisi X Sabam Sinaga mengaku memahami bahwa riset dan inovasi merupakan satu tantangan yang berat. Ia pun melihat bahwa banyak hal yang harus dilakukan BRIN, sehingga ia berharap kehadiran Arif Satria dapat membuat BRIN menjadi inkubator atau wadah riset dan inovasi yang baru.
Sabam mengapresiasi bagaimana BRIN berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), yang telah membuat Peta Jalan Riset untuk digunakan bersama. Sehingga riset yang dilakukan antar keduanya tidak tumpang tindih, yang berbasis pada delapan agenda riset.
"Ini terkait dengan pembiayaan. Kalau ada overlapping pembiayaan, ni bukan hal yang tepat. Maka sudah benar ada rencan akemitraan dengan Kemdiktisaintek sehingga tidak ada oberlaping penelitian. Sehingga pembiayaan Rp1 uang rakyat yang kita distribusikan untuk penelitian, benar benar efektif," jelasnya.
Kepala BRIN Arif Satria menjawab sejumlah pertanyaan dari Pimpinan dan Anggota Fraksi Komisi X dalam RDP tersebut, baik secara langsung maupun yang akan dilakukan secara tertulis. Ia mengapresiasi seluruh pandangan, masukan, serta kritik yang disampaikan dan menurutnya sangat konstruktif.
"Karena kami merasa punya frekuensi yang sama. Bahwa iptek, teknologi, dan inovasi harus memiliki dampak dan kesejahteraan kepada masyarakat. Sehingga Indonesia Emas tidak hanya aspek ekonomi, tapi ekologi dan sosial bisa terjaga dengan baik," kata Arif.
Di sisi lain, ia mengatakan. Task Force Tim Cepat Tanggap pada siang ini telah menggelar rapat untuk penanganan bencana longsor yang terjadi di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Arif menyebut, BRIN akan mengirim teknologi berupa drone dan Arsinum, seperti yang telah dilakukan di lokasi bencana Sumatera dan Aceh.
"Terkait bencana 2026 kami menyiapkan early warning system untuk erosi dan banjir. Nanti akan ada pemetaan nasional daerah yang rawan, lalu di beberapa titik dipasang alat untuk nantinya bisa dilakukan antisipasi," jelasnya.

2 hours ago
1














































