REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyebut pihaknya akan mempelajari secara mendalam kasus pencemaran yang terjadi di Sungai Cisadane, Banten.
“Untuk Cisadane segera, nanti saya bersama tim akan mempelajari,” kata Arif usai menghadiri seminar di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Arif menyebut dirinya telah melakukan pembicaraan dengan sejumlah personel di lapangan untuk mengetahui secara persis kejadian pencemaran sungai tersebut.
“Saya masih ingin memanggil tim yang sudah bergerak, seperti apa kasusnya, kemudian akan kita selesaikan segera,” ujar dia.
Sebelumnya, pencemaran di Sungai Cisadane dilaporkan telah meluas hingga kurang lebih 22,5 kilometer, meliputi wilayah Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang.
Pencemaran tersebut dipicu kebakaran gudang perusahaan pupuk yang mengakibatkan cairan pestisida mengalir ke Sungai Jeletreng, anak Sungai Cisadane, di Tangerang Selatan.
Dampak yang teridentifikasi, antara lain, kematian berbagai biota akuatik, seperti ikan mas, ikan baung, ikan patin, ikan nila, dan ikan sapu-sapu.
“Kurang lebih 20 ton pestisida terbakar, dan air sisa pemadaman yang bercampur residu kimia mengalir hingga mencemari sungai. Kondisi ini sangat berdampak serius terhadap ekosistem perairan dan masyarakat di sekitarnya,” kata Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq, Rabu (11/2/2026).
KLH menyatakan akan mendalami kasus ini melalui serangkaian pengujian laboratorium dan kajian ilmiah. “Untuk sementara waktu, kami mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai agar tidak menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari karena berpotensi menyebabkan iritasi kulit dan mata, serta gangguan pernapasan jika uapnya terhirup,” ujarnya.
sumber : Antara

3 hours ago
6













































