BRIN Ungkap Besarnya Nilai Tambah Proyek Baterai EV Garapan MIND ID

1 hour ago 2

Penandatanganan framework agreement pengembangan industri baterai terintegrasi antara Indonesia Battery Corporation (IBC), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTAM), dan Konsorsium HYD Investment Limited (HYD), yang dilaksanakan pada Jumat (30/1), di Jakarta. PT PLN (Persero) sebagai salah satu pemegang saham IBC mendukung langkah kolaborasi ini yang dinilai strategis untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik nasional sekaligus sistem pembangkit listrik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang dikembangkan Grup MIND ID berpotensi menciptakan nilai tambah ekonomi hingga lebih dari 100 kali lipat. Potensi tersebut terutama berasal dari penguatan industri pada segmen midstream dan downstream.

Peneliti Senior BRIN Evvy Kartini menilai pengembangan ekosistem baterai terintegrasi mendorong Indonesia melampaui tahap pengolahan awal mineral dan masuk ke sektor manufaktur bernilai tinggi. Tahapan itu mencakup produksi prekursor, material katoda, hingga baterai kendaraan listrik.

“Kalau kita berhenti di tahap mixed hydroxide precipitate (MHP), nilai tambahnya hanya sekitar lima sampai 10 kali. Tapi ketika sudah masuk ke produksi katoda, nilainya bisa naik hingga 50 kali, dan saat menjadi baterai bisa lebih dari 100 kali,” kata Evvy di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Ia menjelaskan proyek baterai EV yang digarap Grup MIND ID melalui PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dan Indonesia Battery Corporation (IBC), bersama mitra strategis global, menjadi pijakan penting transformasi struktur ekonomi nasional berbasis industri bernilai tambah tinggi. Indonesia dinilai memiliki keunggulan kompetitif berupa rantai pasok pengolahan mineral yang relatif lengkap dari hulu hingga hilir, yang dapat dioptimalkan untuk membangun ekosistem industri baterai secara menyeluruh dan berkelanjutan.

“Nilai ekonomi terbesar itu ada di midstream dan downstream. Di situlah industri tumbuh, lapangan kerja tercipta, dan penguasaan teknologi berkembang,” ujar Evvy.

Ia menekankan nikel sebagai komoditas strategis nasional dapat diolah menjadi material katoda, diproduksi menjadi baterai, hingga dikembangkan ke tahap daur ulang, sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih optimal bagi Indonesia. Ia juga menilai baterai berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC) perlu menjadi fokus utama pengembangan industri nasional karena bahan bakunya tersedia di dalam negeri dan memiliki kepadatan energi lebih tinggi dibandingkan teknologi lain.

“Pasar itu harus diciptakan lewat kebijakan. Insentif untuk kendaraan berbasis NMC akan mendorong industri tumbuh dan memastikan hilirisasi berjalan berkelanjutan,” tuturnya.

Evvy optimistis dukungan kebijakan yang konsisten serta eksekusi proyek yang terintegrasi akan memperkuat daya saing industri baterai nasional. Momentum pengembangan ekosistem baterai dinilai menjadi peluang strategis untuk memastikan seluruh rantai nilai industri tumbuh dan berkembang di dalam negeri.

Read Entire Article
Politics | | | |