
Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kalau politik luar negeri itu permainan catur, maka keputusan Presiden Prabowo Subianto meneken akta Board of Peace (BoP, Dewan Perdamaian) adalah langkah “skak” yang membuat banyak penonton di tribun mendadak menahan napas.
Terutama para kiai dan pimpinan ormas Islam, yang dahi mereka berkerut serempak seperti papan tulis penuh coretan dosen killer. Mereka riuh menyatakan penolakan atas keikutsertaan Indonesia dalam BoP bentukan Donald Trump.
Riuh itu wajar, tentu saja. Gaza bukan papan latihan, Palestina bukan pion cadangan. Maka, ketika ormas-ormas Islam dipanggil datang untuk diberi paparan, Istana pun berubah serasa ruang sidang skripsi tingkat doktoral.
Hampir lima puluh pimpinan ormas duduk anteng, sementara sang Presiden — dengan tenang khas prajurit lama — memaparkan argumen. Ia tidak menjual mimpi, apalagi janji surga diplomatik.
Kalimat Prabowo sederhana, nyaris datar: kita masuk bukan untuk jadi pengikut, melainkan pemain. Baginya, lebih baik punya kursi di dalam ruangan daripada berteriak dari luar pagar sambil berharap pintu terbuka karena iba.
Para tokoh ormas pun melunak ketika ada jaminan yang diselipkan Prabowo, seperti tombol darurat di kokpit pesawat: jika BoP berubah menjadi panggung legitimasi penindasan, Indonesia siap angkat kaki. Mundur terhormat. Sayonara.
Jaminan ini penting, sebab sebagian keberatan ormas — yang disampaikan antara lain melalui Majelis Ulama Indonesia — bukan perkara remeh. Mereka paham, sejarah Palestina terlalu sering dipenuhi forum internasional yang ramai di awal, sunyi di akhir.
Lalu mengapa tetap nekat masuk ke kolam yang keruh, licin, dan beraroma busuk kepentingan? Jawabannya, yang tak pernah diungkap Prabowo, mengerucut pada satu nama yang kelicinannya menyaingi belut sawah berminyak: Benjamin Netanyahu.
Bagi Netanyahu, perdamaian bukan tujuan, melainkan variabel yang bisa diutak-atik. Rencana 20 poin Trump di tangannya berubah seperti cat air kehujanan: gambarnya masih ada, tapi maknanya luntur.
Sejak gencatan senjata 10 Oktober, ia memainkan jurus favoritnya — ingkar janji secara sistematis. Saat dunia berharap bantuan kemanusiaan mengalir, hampir lima ratus warga Palestina justru meregang nyawa.
Saat musim dingin menggigit seperti sekarang, monster itu menahan karavan tempat berlindung, hingga bayi-bayi di Gaza mati bukan oleh peluru, melainkan oleh dingin. Dalam kamus Netanyahu, kemanusiaan hanyalah hambatan logistik.
Manusia di Gaza baginya bukan siapa-siapa. Tak heran ia gerah dengan gagasan Dewan Perdamaian. Struktur berlapis yang dirancang Trump — komite eksekutif, komite Palestina, jenderal AS sebagai kepala pasukan stabilisasi — secara halus mencoba mencabut hak veto tak tertulis Netanyahu atas masa depan Gaza.
Lebih menyebalkan lagi bagi Netanyahu, Trump mulai bicara fase kedua perdamaian, setelah fase pertama tukar-menukar tahanan selesai: penarikan pasukan Israel dan rekonstruksi. Bagi Netanyahu, itu alarm bahaya.
Maka lahirlah dari otaknya kelicikan tingkat tinggi bernama “syarat di dalam syarat”. Perlintasan Rafah jadi contoh klasik. Trump mengutus Jared Kushner dan Steve Witkoff, berharap pintu kemanusiaan dibuka.
Namun Netanyahu menolak kecuali satu prasyarat dipenuhi, yaitu penyerahan tahanan terakhir janazah warga Israel. Begitu jazanah ketemu, dan prasyarat itu beres dalam 24 jam, dunia menunggu: apakah truk bantuan masuk?
Ternyata tidak. Netanyahu tak sepenuhnya membuka perlintasan Rafah. Yang dibuka hanyalah jalur pejalan kaki, terbatas pula. Truk bantuan tak boleh masuk. Ini bukan diplomasi; ini seni menghina logika internasional sambil tetap memakai jas resmi.
Sementara ruang-ruang rapat ber-AC sibuk berdiskusi, sekitar enam puluh persen Gaza telah diratakan. Parit-parit digali bukan untuk bertahan, melainkan memastikan warga tak kembali. Strategi scorched earth dibungkus retorika keamanan.
Netanyahu tahu satu hal yang sering luput dari politisi sipil: kelelahan adalah senjata. Dunia bisa bosan, media bisa pindah isu, dan simpati bisa menguap. Maka siapa pun yang mencoba membantu Palestina akan berhadapan dengan tembok syarat, veto, dan alasan keamanan yang elastis seperti karet gelang.

2 hours ago
4















































