REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, Washington dan Teheran saling mengancam dengan retorika yang semakin keras. Presiden AS Donald Trump telah mengerahkan kekuatan militer signifikan di kawasan tersebut, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln yang dilengkapi jet tempur siluman F-35, enam kapal perusak, tiga kapal tempur pesisir, serta sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD tambahan sebagai sinyal jelas kesiapan untuk aksi militer.
Sistem pertahanan udara MIM-104 Patriot dan THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) adalah dua pilar utama perisai rudal Amerika Serikat yang dirancang untuk bekerja secara berlapis. Patriot merupakan sistem jarak menengah yang sangat fleksibel, dirancang untuk mencegat pesawat tempur, rudal jelajah, dan rudal balistik taktis pada fase akhir penerbangannya (terminal). Sistem ini telah teruji dalam berbagai konflik, termasuk perang di Ukraina dan Timur Tengah, di mana varian terbarunya, PAC-3, menggunakan teknologi hit-to-kill atau tabrakan langsung untuk menghancurkan target dengan energi kinetik murni guna memastikan hulu ledak lawan hancur sepenuhnya.
Di sisi lain, THAAD beroperasi pada jangkauan dan ketinggian yang jauh lebih besar dibandingkan Patriot, menjadikannya spesialis penghancur rudal balistik jarak pendek, menengah, dan antarbenua tepat saat mereka masuk kembali ke atmosfer bumi atau masih di luar atmosfer (exo-atmospheric). Keunggulan utama THAAD terletak pada radar AN/TPY-2 miliknya yang sangat canggih, yang mampu mendeteksi ancaman dari jarak ribuan kilometer. Karena kemampuannya yang luar biasa dalam memayungi area yang luas, penempatan THAAD di suatu wilayah, seperti di Korea Selatan atau baru-baru ini di Israel, sering kali dianggap sebagai pesan strategis dan pencegahan (deterrens) yang sangat kuat bagi lawan. Kedua sistem ini saling melengkapi dalam strategi pertahanan berlapis yang disebut Multi-Tiered Defense.
Meski Trump berulang kali menyatakan bahwa “pintu diplomasi masih terbuka” dan berharap tercapai kesepakatan yang memuaskan semua pihak tanpa senjata nuklir bagi Iran, ancaman “serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya” terus bergema. Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan bahwa perang apa pun akan menjadi konflik regional, bukan pertempuran terbatas.
Pertanyaan sentral yang kini mendominasi diskusi di kalangan analis dan pejabat AS: apa sebenarnya tujuan utama eskalasi ini? Apakah Washington hanya ingin menghancurkan program nuklir dan rudal balistik Iran, memaksa rezim tunduk pada negosiasi, atau justru mengejar perubahan rezim secara penuh? Berdasarkan laporan Wall Street Journal dan New York Times, serta pernyataan pejabat senior, Gedung Putih dan Pentagon sedang mengevaluasi beberapa opsi militer paralel, dari serangan terbatas hingga operasi skala besar yang berpotensi mengguncang fondasi Republik Islam Iran.
Opsi 1: Serangan Terbatas dan Simbolis untuk Tekanan Diplomatik
Opsi paling sering disebut sebagai “ideal” oleh pejabat Trump adalah serangan cepat, tegas, dan terukur yang tidak memicu perang berkepanjangan. Target utama meliputi:
1. Fasilitas nuklir kunci (seperti Natanz dan Fordow) untuk menghambat kemajuan pengayaan uranium.
Situs produksi dan peluncuran rudal balistik jarak menengah.
2. Markas besar Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) atau lokasi simbolis yang terkait dengan penindasan demonstran.

2 hours ago
2















































