Pemerintah Dorong Waste-to-Energy, Sistem Penanganan Limbah Jadi Faktor Kunci

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah terus mendorong pengembangan proyek Waste-to-Energy (WtE) sebagai solusi pengelolaan sampah sekaligus penguatan bauran energi nasional. Dengan timbunan sampah yang telah melampaui 189.000 ton per hari, WtE diproyeksikan menjadi salah satu pilar ekonomi sirkular dan ketahanan energi jangka panjang.

Seiring kebijakan tersebut, sejumlah proyek WtE dan Refuse-Derived Fuel (RDF) mulai dikembangkan di berbagai daerah. Namun, keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh teknologi pembangkit, melainkan juga kesiapan sistem penanganan dan pergerakan limbah. Sistem feeding yang tidak stabil berisiko meningkatkan downtime serta lonjakan biaya operasional, yang pada akhirnya memengaruhi kelayakan ekonomi proyek.

PT Multicrane Perkasa (MCP) memposisikan diri sebagai integrated waste movement partner dalam proyek WtE di Indonesia. Perusahaan ini mendukung rantai penanganan limbah mulai dari pre-processing, transfer, feeding, hingga keberlanjutan operasional fasilitas melalui pendekatan sistem terintegrasi.

Salah satu proyek yang tengah berjalan adalah pengembangan WtE di Sukabumi bersama Cahaya Yasa Cipta, serta inisiatif RDF yang telah beroperasi sejak Juli 2025. Pengalaman implementasi RDF untuk kebutuhan industri semen di Thailand juga menjadi rujukan, yang menunjukkan bahwa kesiapan sistem operasional menjadi faktor kunci keberhasilan proyek pengolahan limbah menjadi energi.

Untuk mendukung stabilitas feeding, MCP menghadirkan solusi berbasis crane Hiab 19000 sebagai electric waste feeder. Dua unit Hiab telah ditempatkan di proyek Sukabumi untuk memastikan aliran limbah ke lini WtE dan RDF berlangsung stabil dan terkontrol. Sistem berbasis listrik ini dinilai mampu menekan biaya operasional, meningkatkan keandalan operasi, serta mengurangi risiko gangguan teknis.

Selain itu, MCP juga menyediakan Liebherr material handler LH 40 yang dirancang khusus untuk operasi waste duty. Unit ini digunakan untuk kebutuhan transfer dan penanganan limbah skala menengah hingga besar, sehingga dapat mengurangi jumlah alat yang dibutuhkan sekaligus menjaga konsistensi feeding dalam jangka panjang.

“Keberhasilan proyek Waste-to-Energy tidak cukup hanya dari sisi teknologi pembangkit, tetapi juga sangat ditentukan oleh kesiapan sistem operasional di lapangan. Melalui dukungan peralatan dan sistem terintegrasi, kami berharap dapat membantu memastikan proses penanganan limbah berjalan lebih stabil, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa Adrianus Hadiwinata.

Ke depan, peran penyedia alat berat dalam proyek WtE diproyeksikan semakin strategis, tidak hanya sebagai pemasok unit, tetapi juga sebagai mitra sistem operasional. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah mempercepat pengelolaan sampah berkelanjutan agar proyek WtE berjalan layak secara teknis, operasional, dan ekonomi.

Read Entire Article
Politics | | | |