Culture Shock Digital Picu Benturan Identitas Generasi Z

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perkembangan teknologi komunikasi yang kian cepat dinilai memicu bentuk baru gegar budaya atau culture shock di kalangan Generasi Z. Berbeda dengan generasi sebelumnya, gegar budaya kini tidak lagi dipicu oleh perpindahan geografis, melainkan oleh arus informasi global yang hadir secara simultan melalui ruang digital.

Pemerhati sosial Gian Felanroe Pardamean Sitorus menilai Generasi Z menghadapi tekanan budaya yang jauh lebih kompleks karena harus beradaptasi dengan nilai lokal sekaligus budaya global dalam waktu bersamaan.

“Generasi Z tidak perlu pergi ke luar negeri untuk mengalami culture shock. Cukup membuka media sosial, mereka sudah berhadapan dengan perdebatan global, standar nilai yang berbeda, dan ekspresi budaya yang datang tanpa konteks,” ujar Gian.

Ia menjelaskan, konsep culture shock yang selama ini dipahami sebagai pengalaman individu ketika memasuki lingkungan budaya baru kini mengalami pergeseran. Di era digital, budaya asing justru masuk ke ruang privat melalui gawai dan platform media sosial.

Menurut Gian, ruang komunikasi digital juga menghilangkan banyak penanda budaya yang selama ini menjadi penopang makna dalam interaksi sosial, seperti intonasi, bahasa tubuh, dan konteks relasional.

“Di ruang digital, satu kalimat bisa dimaknai berbeda oleh budaya yang berbeda. Ketika konteks hilang, potensi salah tafsir dan konflik menjadi lebih besar,” kata dia.

Lebih lanjut, Gian menilai Generasi Z hidup dalam benturan identitas yang berlapis. Mereka menyerap nilai dari keluarga dan lingkungan lokal, namun di saat bersamaan juga terpapar budaya global melalui algoritma media sosial.

“Ketika nilai lokal menekankan kesantunan dan harmoni, sementara ruang digital justru memberi insentif pada ekspresi yang keras dan kontroversial, di situlah terjadi guncangan identitas,” ujarnya.

Ia menambahkan, algoritma media sosial turut memperkuat fenomena tersebut karena cenderung menampilkan konten yang memicu keterlibatan tinggi tanpa mempertimbangkan konteks budaya.

“Algoritma tidak peduli apakah sebuah nilai sesuai dengan konteks sosial tertentu. Yang diperkuat justru perbedaan ekstrem, stereotip, dan konflik,” jelas Gian.

Meski demikian, Gian menilai tekanan tersebut juga membentuk daya adaptasi Generasi Z. Paparan lintas budaya yang intens membuat mereka lebih fleksibel dalam membaca simbol, berbahasa, dan menyesuaikan diri dengan berbagai konteks sosial.

“Tekanan budaya yang konstan memang melelahkan, tetapi di saat yang sama membentuk Generasi Z sebagai generasi paling multikultural yang pernah ada,” katanya.

Ke depan, Gian menekankan pentingnya penguatan literasi antarbudaya dan literasi digital agar fenomena culture shock digital tidak berkembang menjadi konflik sosial yang lebih luas.

“Culture shock hari ini bukan sekadar masalah individu, tetapi sinyal bahwa masyarakat sedang memasuki fase baru dalam evolusi budaya global,” pungkasnya.

Read Entire Article
Politics | | | |