NU dan Geopolitik Global: Islam Moderat di Tengah Dunia yang Terbelah

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Mubasyier Fatah (Bendahara Umum Pimpinan Pisat Ikatan Sarjanq Nahdlatul Ulama (PP ISNU))

Dunia kini bergerak dalam lanskap yang kian rapuh. Lebih dari 110 konflik bersenjata aktif tercatat secara global, disertai lonjakan krisis kemanusiaan yang berdampak pada lebih dari 350 juta penduduk dunia yang hidup dalam situasi rawan konflik.

Ketegangan itu tidak hanya berlangsung di medan perang. Data over view report menunjukan, lebih dari 6 miliar pengguna media sosial menjadi sasaran perang informasi, disinformasi, dan propaganda politik yang membentuk persepsi publik secara cepat dan sering kali manipulatif.

Dalam situasi tersebut, agama tampil ambigu. Di satu sisi, ia menjadi sumber ketahanan moral bagi jutaan orang. Di sisi lain, agama kerap direduksi menjadi identitas politik yang dieksploitasi untuk legitimasi kekuasaan dan konflik.

Geopolitik global hari ini tidak lagi ditentukan semata oleh kekuatan militer. Sekitar 60 persen konflik kontemporer dipengaruhi oleh faktor ekonomi, teknologi informasi, dan pertarungan opini publik yang berlangsung di luar jalur diplomasi formal.

Konflik di Ukraina dan Gaza, misalnya, tidak hanya melibatkan senjata, tetapi juga perang narasi digital yang menghasilkan miliaran interaksi daring, membentuk emosi kolektif global dalam hitungan jam, bukan tahun.

Dalam pusaran itulah umat beragama sering berada pada posisi rentan. Berbagai survei global menunjukkan bahwa lebih dari 40 persen konten ekstremisme daring menggunakan simbol atau bahasa keagamaan untuk membangun legitimasi emosional.

Nahdlatul Ulama hadir dari pengalaman sejarah panjang mengelola perbedaan. Dengan basis lebih dari 90 juta jamaah, NU bukan hanya organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, tetapi juga salah satu komunitas Muslim terbesar di dunia.

NU memang bukan aktor geopolitik negara, tetapi pengaruh moral dan sosialnya signifikan. Jejaring pesantren NU yang berjumlah lebih dari 28 ribu lembaga menjadi ekosistem pendidikan moderasi yang bekerja senyap namun berkelanjutan.

Islam moderat yang diperjuangkan NU lahir dari tradisi pesantren yang menekankan keseimbangan antara teks dan konteks. Pendekatan ini terbukti adaptif di tengah perubahan sosial yang semakin cepat dan kompleks.

Di tengah dunia yang terbelah, pendekatan tersebut relevan karena menawarkan jalan tengah antara ekstremisme ideologis dan liberalisme tanpa batas yang sama-sama berpotensi menggerus nilai kemanusiaan.

Islam Moderat NU dan Tantangan Dunia Global

Islam moderat ala NU bukan sikap netral tanpa nilai. Ia adalah keberpihakan tegas pada kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian lintas batas, UNHCR merilis lebih dari 117 juta orang di dunia hidup sebagai pengungsi konflik.

Ketika geopolitik global mengeras, NU justru menempatkan agama sebagai ruang dialog. Dalam dua dekade terakhir, NU terlibat dalam puluhan forum dialog lintas agama internasional yang menempatkan Islam sebagai mitra perdamaian, bukan ancaman.

Pengalaman Indonesia sebagai negara dengan lebih dari 1.300 kelompok etnis dan ratusan bahasa memberi NU modal sosial berharga dalam mengelola konflik tanpa kekerasan sistemik.

Nilai kompromi sosial dan kesabaran budaya ini menjadi kekeutan NU untuk dibawa ke tingkat global melalui diplomasi kebudayaan, inisiatif kemanusiaan, dan kerja-kerja intelektual yang jarang menjadi sorotan media.

Pendekatan yang dibawah NU tidak harus spektakuler. Namun, konsistensinya melalui moderasi bukan sekadar slogan, melainkan praktik sosial yang teruji dalam jangka panjang.

Di tengah dunia yang mudah tersulut emosi kolektif, NU memilih bahasa yang menenangkan. Pendekatan ini penting ketika riset menunjukkan bahwa konten bermuatan kemarahan memiliki peluang sebar hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan pesan reflektif.

Islam moderat NU menolak klaim kebenaran tunggal yang sering menjadi justifikasi kekerasan. Sikap ini krusial ketika agama semakin sering diposisikan sebagai alat mobilisasi politik global.

NU harus berupaya menjaga umat agar tidak terjebak dalam narasi geopolitik yang menyederhanakan konflik kompleks menjadi pertarungan hitam-putih yang menyesatkan.

Geopolitik Digital dan Pertarungan Narasi

Perang geopolitik hari ini berlangsung paralel di ruang digital. Setiap hari, lebih dari 500 juta unggahan terkait isu politik dan konflik global beredar di berbagai platform media sosial.

Media sosial mempercepat penyebaran emosi dan kebencian. Dalam banyak kasus, klarifikasi dan analisis mendalam tertinggal jauh dibandingkan hoaks yang dirancang provokatif dan emosional.

Narasi keagamaan dangkal sering kali lebih cepat viral dibandingkan pesan moderat yang membutuhkan konteks. Algoritma digital cenderung menguatkan konten sensasional, bukan kebijaksanaan.

NU menghadapi tantangan ketika suara Islam moderat harus bersaing dengan ekosistem digital yang tidak selalu ramah pada kedalaman berpikir. Radikalisme digital kini lebih sering hadir sebagai penyempitan nalar, bukan kekerasan fisik langsung.

Karena itu, NU harus memandang penting kehadiran intelektual dan kadernya sebagai penjernih informasi. Maka, ISNU dan jejaring akademik NU memainkan peran strategis dalam memproduksi kajian berbasis data yang dapat menjadi rujukan publik.

Penguatan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak, terutama ketika lebih dari 60 persen generasi muda mendapatkan informasi geopolitik pertama mereka dari media sosial, bukan dari sumber akademik atau jurnalistik.

NU perlu memahami bahwa melawan disinformasi tidak cukup dengan emosi. Dibutuhkan kerja intelektual yang sabar, konsisten, dan berbasis pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Peran Moral NU di Tengah Dunia yang Terbelah

Dunia yang terbelah hari ini membutuhkan lebih dari keseimbangan kekuatan. Ia membutuhkan keberanian moral untuk menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan blok dan ideologi.

Pilihan terbaik bagi NU adalah menjadi penjaga nurani. Pendekatan ini tidak selalu populer, tetapi relevan ketika lebih dari separuh penduduk dunia hidup dalam negara yang mengalami penurunan kualitas demokrasi dan kebebasan sipil.

Islam moderat NU mengajarkan bahwa keberpihakan pada perdamaian bukan tanda kelemahan. Ia justru bentuk kedewasaan moral dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks.

Ke depan, tantangan geopolitik akan ditandai krisis iklim, migrasi global, dan ketimpangan ekonomi. NU perlu terus memperkuat basis keilmuan dan kapasitas komunikasinya agar otoritas moralnya tetap terjaga.

Di tengah dunia yang semakin sinis terhadap nilai, NU harus menunjukkan bahwa agama masih dapat menjadi sumber rasionalitas dan harapan.

Islam moderat yang diperjuangkan NU bukan nostalgia masa lalu, melainkan tawaran masa depan yang lebih manusiawi.

Ketika dunia terus terbelah, NU mengingatkan bahwa perbedaan tidak harus berujung permusuhan, tetapi dapat dikelola melalui kebijaksanaan, kesabaran, dan kerja nilai yang konsisten.

Read Entire Article
Politics | | | |