REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Upaya transisi energi bersih mulai menyentuh sektor hulu industri susu nasional. Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS) menjadi salah satu contoh penerapan energi terbarukan melalui kolaborasi dengan WRI Indonesia dan dukungan HSBC, sebagai bagian dari penguatan rantai pasok berkelanjutan.
Project Lead WRI Indonesia, Ahmad Muzaki Syafii, menjelaskan sektor hulu kerap luput dari perhatian dalam agenda transisi energi. Padahal, KPBS memiliki peran strategis sebagai pemasok utama bahan baku susu.
“Selama ini transisi energi banyak difokuskan di industri hilir. Kami ingin memastikan sektor hulunya juga ikut terlibat,” ujar Ahmad.
Sebelum intervensi, KPBS sepenuhnya mengandalkan energi fosil dari listrik PLN dan bahan bakar solar. Namun melalui program pendampingan, WRI melihat potensi pemanfaatan energi bersih yang signifikan. Dua teknologi utama diterapkan, yakni Variable Speed Drive (VSD) pada sistem pompa chilled water di PTSKP serta Solar Water Heater di unit Los Cimaung.
Teknologi VSD memungkinkan pengaturan kecepatan pompa agar tidak bekerja secara penuh terus-menerus, sehingga konsumsi energi lebih efisien. Sementara Solar Water Heater dipilih karena kebutuhan energi pemanas air sebelumnya mencapai 70 hingga 80 persen dari total konsumsi energi di MCP.
“Dengan teknologi ini, selain menggunakan energi terbarukan, efisiensi biaya juga mulai terlihat,” kata Ahmad kepada wartawan, Senin (26/1/2026).
Meski besaran penghematan bervariasi setiap bulan, sejak implementasi teknis pada Agustus hingga Desember, telah tercatat adanya efisiensi energi dan penurunan biaya operasional. Program ini sendiri telah berjalan hampir dua tahun, mencakup proses perhitungan, perencanaan hingga pemantauan kinerja teknologi selama enam bulan terakhir.
Dari sisi pendanaan, Nuni Sutyoko, Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia
menegaskan bahwa dukungan yang diberikan merupakan bagian dari program filantropi atau tanggung jawab sosial perusahaan. Namun, pendekatan yang diambil bukan sekadar bantuan finansial.
“Kami bermitra dengan WRI untuk mencari solusi yang dapat direplikasi. Tujuannya agar praktik rendah karbon ini bisa diadopsi sektor lain,” ujarnya.
Ke depan, pengembangan serupa terbuka untuk diterapkan di lokasi lain. Model kolaborasi ini diharapkan menjadi rujukan dalam mendorong rantai pasok industri pangan yang lebih berkelanjutan dan rendah emisi karbon.
Sekretaris KPBS Pangalengan, Asep Rahmat Khairudin, menilai penerapan teknologi efisiensi energi tersebut memberi manfaat berlapis, tidak hanya bagi operasional koperasi, tetapi juga berdampak langsung pada peternak sebagai anggota.
Ia menjelaskan, pemanfaatan solar water heater di Milk Collection Point (MCP) mampu menekan penggunaan listrik sekaligus menghasilkan panas air yang lebih optimal untuk proses pembersihan jalur susu. Kondisi tersebut berpengaruh pada kualitas susu yang dikumpulkan.
“Kalau jalur bersih, otomatis jumlah kuman dalam susu lebih rendah. Dampaknya, kualitas naik dan harga jual susu juga ikut meningkat,” ujarnya.
Asep menambahkan, efisiensi energi yang diterapkan di pabrik pengolahan KPBS juga menurunkan handling cost susu. Penurunan biaya tersebut berkontribusi pada peningkatan margin koperasi.
“Ketika biaya turun dan margin naik, maka harga susu yang diterima peternak juga bisa ikut naik. Jadi secara tidak langsung, program efisiensi energi ini ujungnya meningkatkan kesejahteraan peternak,” kata Asep.

2 hours ago
1













































