REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aroma deja vu kembali mengiringi langkah Arsenal di Liga Primer Inggris. Setelah beberapa musim beruntun tampil meyakinkan di paruh pertama, lalu goyah menjelang garis akhir dan harus puas menjadi runner-up, tanda-tanda rapuh itu kembali muncul.
Kali ini, The Gunners menyia-nyiakan keunggulan dua gol dan dipaksa bermain imbang 2-2 oleh tim juru kunci, Wolverhampton Wanderers, di Stadion Molineux, Kamis (19/2/2026) dini hari WIB.
Hasil ini terasa seperti pukulan telak. Arsenal sejatinya tampil dominan dan sempat memegang kendali penuh pertandingan. Namun, kelengahan di momen-momen krusial kembali menghantui, persis skenario yang kerap terjadi dalam beberapa musim terakhir saat tekanan perebutan gelar memuncak.
Empat menit laga berjalan, publik tuan rumah sudah terdiam. Bukayo Saka mengakhiri puasa golnya dengan sundulan jarak dekat memanfaatkan umpan matang Declan Rice. Gol itu sekaligus menjadi perayaan manis kontrak baru lima tahunnya.
Arsenal terus menekan dan menggandakan keunggulan pada menit ke-55. Kali ini giliran Piero Hincapie yang menyambar umpan Gabriel dan mengangkat bola melewati kiper Jose Sa. Skor 2-0 seharusnya cukup untuk mengunci laga.
Namun, seperti musim-musim sebelumnya, Arsenal gagal membunuh pertandingan. Wolves yang terpuruk di dasar klasemen justru menemukan momentum. Hugo Bueno memperkecil ketertinggalan lewat sepakan melengkung indah ke sudut atas gawang, gol pertamanya di Liga Primer Inggris.
Gol itu menjadi titik balik psikologis. Arsenal mulai kehilangan ritme, sementara Wolves bermain tanpa beban. Drama mencapai puncaknya pada menit ke-94. David Raya gagal mengantisipasi umpan silang, bola jatuh ke kaki Tom Edozie yang melakoni debut seniornya. Tembakan rendahnya mengenai Riccardo Calafiori dan tiang gawang sebelum akhirnya bersarang ke dalam jala. Gol bunuh diri yang menyakitkan.
Arsenal kini mengoleksi 58 poin dari 27 pertandingan, hanya berjarak lima poin dari Manchester City yang terus membayangi dengan satu laga lebih sedikit. Dalam delapan laga terakhir, Arsenal hanya meraih tiga kemenangan, catatan yang membuka kembali ruang bagi City untuk menekan.
Musim belum selesai, tetapi pola lama mulai terlihat. Arsenal kerap tampil meyakinkan saat tekanan belum memuncak, lalu goyah ketika setiap poin menjadi penentu. Jika tidak segera menemukan konsistensi dan ketenangan di fase krusial ini, ancaman mengulang kisah runner-up bisa kembali menjadi kenyataan.
Bagi Arsenal dan pelatih Mikel Arteta, alarm berbenah agar tak mengulangi kisah pedih serupa terdengar semakin keras.
sumber : Reuters

4 hours ago
4















































