REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah dunia yang semakin bising oleh notifikasi, layar yang tak pernah padam, dan arus informasi yang tak terbendung, rumah perlahan berubah.
Ia tak lagi selalu menjadi ruang percakapan, tetapi kerap menjadi tempat di mana setiap anggota keluarga sibuk dengan dunianya sendiri. Dalam suasana seperti itulah, pesan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X terasa menemukan relevansinya.
Sri Sultan menegaskan, keluarga adalah fondasi utama dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan akhlak mulia. Nilai-nilai itu, kata dia, tidak lahir dari ruang kelas semata, melainkan dari interaksi sederhana di dalam rumah, dari cara orang tua berbicara, bersikap, dan memberi teladan.
Di antara semua peran dalam keluarga, sosok ibu menempati posisi yang begitu sentral. Bukan hanya sebagai pengasuh, tetapi sebagai penjaga nilai, perawat jiwa, dan penuntun arah bagi anak-anaknya. Sentuhan kasih sayang yang diberikan seorang ibu sering kali menjadi bahasa pertama yang dipahami anak tentang dunia.
Namun kini, tantangan itu kian kompleks. Anak-anak tumbuh di tengah dunia digital yang menawarkan segalanya, hiburan, informasi, bahkan nilai-nilai yang belum tentu selaras dengan budaya dan jati diri bangsa. Di layar kecil itu, anak bisa belajar, tetapi juga bisa tersesat.
Di titik inilah peran ibu menjadi semakin penting. Bukan sekadar melarang atau membatasi, tetapi mendampingi, menjelaskan, dan menanamkan makna. Karena di balik setiap konten yang dikonsumsi anak, ada nilai yang perlahan membentuk cara berpikir dan cara mereka memandang dunia.
Sering kali, yang luput disadari bukanlah apa yang dilihat anak, tetapi apa yang tidak lagi mereka dapatkan. Percakapan hangat di ruang keluarga, nasihat sederhana sebelum tidur, atau cerita-cerita kecil tentang kehidupan, semuanya perlahan tergeser oleh waktu layar yang semakin panjang.
Padahal, di situlah nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan tumbuh. Dari kebiasaan saling menyapa, dari contoh menghargai perbedaan, dari cara orang tua menyikapi masalah. Nilai itu tidak diajarkan sebagai teori, tetapi diwariskan melalui kehidupan sehari-hari.
sumber : Antara

6 hours ago
11














































