Di Hadapan Ratusan Guru di Kulonprogo, Founder GSM: Pendidikan Upaya Kembangkan Keunikan Individu

4 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, WATES -- Indonesia memiliki kekayaan alam dan sumber daya manusia yang beragam. Tantangannya adalah memastikan pendidikan mampu mengembangkan potensi tersebut menjadi kapasitas nyata untuk membangun masa depan bangsa.

Pertanyaan tersebut menjadi benang merah Ngkaji Pendidikan 'Jatuh Bangunnya Peradaban' yang diselenggarakan oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Auditorium Taman Budaya Kulonprogo, Sabtu (29/8/2026).

Lebih dari 700 guru dan pendidik dari berbagai daerah Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, bahkan Sumatera hadir bersama mahasiswa, perwakilan pemerintah, dan Dewan Pendidikan. Komunitas GSM Kulonprogo menjadi tuan rumah kegiatan tersebut.

Founder GSM sekaligus Dosen DTETI UGM, Muhammad Nur Rizal mengajak peserta mempelajari sejarah peradaban Yunani, Romawi, Jepang, dan Cina sebagai bahan refleksi dalam menghadapi perubahan.

"Peradaban tidak jatuh dalam satu hari dan tidak bangkit karena satu kebijakan. Peradaban dibangun setiap hari melalui cara suatu bangsa mendidik manusia, memperlakukan gagasan, dan menyediakan ruang untuk bertumbuh," kata Rizal.

Ketika kekuatan tidak lagi memadai

Yunani dan Romawi menunjukkan bahwa kejayaan masa lalu tidak menjamin kemampuan suatu bangsa dalam menghadapi persoalan baru. Sistem yang pernah berhasil dapat kehilangan relevansinya ketika lingkungan berubah dan cara lama tidak lagi memadai.

Jepang justru menjadikan guncangan sebagai titik balik dengan membuka diri, belajar, dan melakukan pembaruan institusional.

"Jepang bangkit bukan karena sudah mengetahui jawabannya, melainkan karena berani mengakui, ‘Kami belum tahu,’ kemudian belajar dan mengubah institusi negara," katanya.

Cina juga belajar melalui eksperimen, evaluasi, dan keterbukaan terhadap pengetahuan dari luar. Setelah berbagai kegagalan pada era Mao Zedong, ilmu pengetahuan dan teknologi ditempatkan semakin penting dalam pembangunan negara agar China lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

Perubahan dilakukan bukan dengan mencari jawaban yang sempurna sejak awal, melainkan dengan membangun kemampuan untuk belajar, mengoreksi, dan mencoba kembali.

Dari keempat kisah tersebut, satu hal menjadi jelas: krisis tidak secara otomatis menentukan nasib suatu bangsa. Yang menentukan adalah kemampuan membaca perubahan dan meresponsnya.

Indonesia: kaya potensi, tetapi apakah manusianya memiliki kapasitas?

Indonesia memiliki modal yang besar: sumber daya alam, keragaman budaya, jumlah penduduk yang besar, serta anggaran pendidikan sekitar Rp 724,3 triliun pada 2025. Investasi itu juga telah memperluas akses pendidikan hingga sekitar 408 ribu satuan pendidikan formal. Bahkan 96,1 persen sekolah dasar/madrasah telah terakreditasi A, B, atau C.

Namun, ketika akses sudah meluas dan investasi terus membesar, pertanyaan berikutnya bukan lagi sekadar berapa banyak sekolah yang kita punya, melainkan seberapa besar kemampuan manusia yang berhasil kita bangun.

Modal Indonesia tidak berhenti pada pendidikan. Negeri ini juga memiliki kekayaan mineral strategis yang luar biasa: sekitar 42,3 persen cadangan nikel dunia, posisi penting dalam produksi kobalt, serta sekitar 136,2 juta ton sumber daya bijih logam tanah jarang.

Tetapi mineral tidak mengolah dirinya sendiri. Ia baru menjadi kekuatan ketika ada manusia yang mampu mengubahnya menjadi teknologi, industri, dan nilai tambah.

Di sinilah kekayaan alam bertemu dengan pendidikan.

Tantangan itu tercermin dari PISA 2022. Skor Indonesia terpaut 106 poin dalam matematika, 117 poin dalam literasi, dan 102 poin dalam sains dari rata-rata OECD. Menurut OECD, 20 poin kira-kira setara dengan satu tahun kemajuan belajar. Dengan demikian, ketiga gap tersebut secara kasar menggambarkan jarak lebih dari lima tahun capaian belajar.

Di balik angka itu tergambar betapa jauhnya kapasitas manusia Indonesia yang masih perlu dikejar—dalam memahami realitas, menggunakan pengetahuan, memecahkan masalah, mencipta, dan beradaptasi.

"Institusi yang baik bukanlah institusi yang paling banyak mengatur manusia, melainkan yang paling mampu mengembangkan potensi manusia," katanya.

Dari talenta menjadi kekuatan bangsa

Pendidikan perlu dipahami bukan sebagai proses menyeragamkan anak, melainkan sebagai upaya menemukan dan mengembangkan keunikan setiap individu.

"Indonesia tidak kekurangan talenta. Tantangannya adalah menemukan, mengembangkan, dan menghubungkan talenta tersebut dengan pengetahuan, pengalaman, serta persoalan nyata," katanya.

GSM merumuskannya sebagai berikut:

TALENTA → TERHUBUNG → BERGERAK → MENJADI KAPASITAS

Keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari jumlah sekolah, peserta didik, atau besarnya anggaran.

"Pertanyaan utamanya adalah: Berapa banyak potensi manusia Indonesia yang berhasil ditemukan, dikembangkan, dihubungkan, dan digerakkan menjadi kekuatan bangsa?

Perubahan tersebut bermula di ruang kelas dan melalui peran guru," katanya.

Guru mungkin tidak secara langsung mengubah kebijakan, perekonomian, atau peradaban. Namun, guru membentuk manusia—dan manusia pada waktunya mengubah bangsa.

Setelah 81 tahun merdeka, pertaruhan pendidikan adalah apakah manusia Indonesia semakin mampu memahami zamannya, mengelola kekayaannya, bekerja sama, dan menentukan masa depannya.

Kekayaan alam baru menjadi kekuatan ketika terdapat manusia yang mampu memahami, mengolah, menjaga, dan mengembangkannya. Kekayaan terbesar Indonesia adalah manusia yang mampu mengelolanya. Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling kaya akan potensi.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang paling mampu mengembangkan potensinya.

"Kita tidak boleh menjadi penonton atas kekayaan kita sendiri," kata Rizal.

Read Entire Article
Politics | | | |