REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Lebih dari 3.500 orang telah menandatangani petisi tentang penolakan proyek pemanfaatan panas bumi atau geotermal di Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Luas lahan yang bakal dieksplorasi dalam proyek tersebut mencapai hampir 30 ribu hektare dan titik pengobaran dapat menembus hingga kedalaman 2.000-an meter.
Petisi penolakan proyek panas bumi Gunung Ungaran telah diunggah di situs web change.org. Petisi tersebut dilincurkan Heru P pada 27 Agustus 2026. Berdasarkan pantauan Republika pada Senin (31/8/2026), petisi itu telah ditandatangani 3.559 warga. Dalam petisinya, Heru mengaku sebagai warga yang peduli pada lingkungan, sumber air, dan masa depan Gunung Ungaran.
Heru mengungkapkan, bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya, Gunung Ungaran bukan hanya sekadar gunung. “Gunung Ungaran adalah sumber kehidupan. Airnya dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, dan kehidupan masyarakat yang berada di lereng hingga wilayah sekitarnya. Karena itu, kami menolak rencana kegiatan pengeboran panas bumi di Gunung Ungaran,” kata Heru.
Dia menambahkan, penolakan tersebut bukan berarti dia atau warga lainnya anti terhadap pembangunan dan energi bersih. “Kami memahami kebutuhan akan energi dan pentingnya pembangunan. Namun, pembangunan tidak seharusnya dilakukan dengan mempertaruhkan sumber air dan lingkungan yang menjadi penopang kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Heru menekankan, kekhawatiran masyarakat terhadap proyek panas bumi di Gunung Ungaran semakin besar karena dalam beberapa tahun terakhir mereka sudah merasakan berkurangnya aliran air, terutama pada musim kemarau. Menurutnya, dalam kondisi demikian, ekosistem di Gunung Ungaran seharusnya lebih dijaga, bukan justru dipertaruhkan dengan kegiatan yang berpotensi mengganggu keseimbangan air dan lingkungan.
“Kami tidak ingin menunggu sampai mata air berkurang, sumber air masyarakat terganggu, pertanian terdampak, atau kerusakan lingkungan terjadi, baru kemudian kita bertindak,” ucap Heru.
Dia mengatakan, selain sumber air, hutan, dan pertanian, Gunung Ungaran turut memiliki kawasan wisata serta budaya. Menurutnya, semua hal itu bernilai penting bagi masyarakat dan tidak bisa diganti begitu saja jika mengalami kerusakan.
“Kami meminta pemerintah untuk menghentikan dan menolak pengeboran panas bumi di Gunung Ungaran. Kami percaya bahwa menjaga sumber air dan lingkungan harus menjadi prioritas,” ujar Heru.
Menurut Heru, sumber energi dapat diperoleh di berbagai tempat dan beragam cara. Namun jika sumber air keseimbangan alam rusak, Heru menyebut, hal itu mesti ditanggung warga dalam jangka waktu panjang.
“Petisi ini adalah suara masyarakat yang ingin Gunung Ungaran tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang,” kata dia.

5 hours ago
18

















































