Ekonom: Risiko Bencana Perlu Jadi Pertimbangan Kebijakan Ekonomi

3 hours ago 5

Sejumlah warga membawa barang-barang miliknya saat akan mengungsi ketika bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (6/2/2026). Menurut data PMI Kabupaten Tegal jumlah rumah yang rusak dan terdampak bertambah 448 dan 1.686 jiwa mengungsi ke tempat yang lebih aman akibat bencana tanah bergerak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Wisnu Setiadi Nugroho mengingatkan bahwa penghitungan risiko bencana perlu menjadi pertimbangan dalam kebijakan perekonomian. Dalam diskusi daring diikuti dari Jakarta, Selasa (10/2/206), Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, Wisnu mengatakan Indonesia sebagai wilayah rawan bencana, baik bencana alam maupun hidrometeorologi dapat mempertimbangkan risiko bencana dalam kebijakan ekonominya.

"Pertumbuhan kita di negara kita biasanya yang pertama neglecting exteirnalities, eksternalitas itu, kemudian tidak dipedulikan, diacuhkan, jadi kemudian kebijakan fiskal, investasi itu mengabaikan adanya variabel bencana, risiko-risiko yang muncul, sehingga daerah yang memiliki risiko besar eksposure akan besar, vulnerability-nya akan besar dan itu akan berdampak langsung ke masyarakat," kata Wisnu.

Selain itu, dia merujuk perlunya menghindari miskalkulasi penggunaan spasial, termasuk ekspansi infrastruktur di daerah rentang, seperti pesisir, lembah dan lereng tanpa melakukan mitigasi risiko.

Dia mendorong untuk menghindari bias untuk mendapatkan produk domestik bruto (gross domestic product/GDP) jangka pendek.

"Mereka mencari yang cepat untung, padahal kita tidak boleh mencari yang cepat untung, kita harus berpikir jangka panjang. Anak kita akan seperti apa, cucu kita akan seperti apa, bagaimana kalau ada risiko bencana dan lain-lain," tuturnya.

Penghitungan dan pertimbangan efek jangka panjang tersebut diperlukan untuk menekan risiko bencana yang dapat mengakibatkan korban jiwa akibat bencana alam atau hidrometeorologi.

Secara khusus, dia mengingatkan bahwa terdapat potensi perubahan perilaku ketika masyarakat terpapar dengan bencana alam dalam periode tertentu, termasuk perilaku terkait ekonomi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan menjadi faktor kesejahteraan masyarakat.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Politics | | | |