Original Trofi Piala Dunia ditampilkan saat acara FIFA World Cup 2026 Trophy Tour di Jakarta Internasional Convention Center (JICC) , Kamis (22/1/2026). FIFA World Cup 2026 Trophy Tour by Coca-Cola ini menghadirkan trofi asli Piala Dunia FIFA ke Jakarta dan memberikan kesempatan istimewa bagi pecinta sepakbola Indonesia untuk menyaksikan secara langsung trofi paling prestisius di dunia menjelang FIFA World Cup 2026. Indonesia menjadi salah satu dari sedikit negara di Asia Tenggara yang disinggahi dalam tur global ini.
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter menyatakan dukungannya terhadap seruan boikot pertandingan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat (AS). Berdasarkan laporan The Guardian pada Selasa (27/1/2026), Blatter menilai kekhawatiran terkait faktor keamanan menjadi alasan kuat bagi para suporter untuk tidak datang langsung ke negara tersebut.
Blatter mendukung pernyataan pengacara antikorupsi asal Swiss, Mark Pieth yang sebelumnya bekerja sama dengan FIFA dalam upaya reformasi saat Blatter masih menjabat presiden. Pieth secara terbuka menyarankan agar penggemar sepak bola tidak bepergian ke Amerika Serikat selama turnamen berlangsung.
“Saya pikir Mark Pieth benar mempertanyakan Piala Dunia ini,” tulis Blatter melalui media sosial.
Dukungan Blatter tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran keamanan, menyusul kabar meninggalnya warga negara Amerika Serikat kedua, Alex Pretti pada akhir pekan lalu. Meski tidak dijelaskan secara rinci keterkaitan kasus tersebut dengan Piala Dunia, peristiwa itu disebut memperkuat kekhawatiran publik.
Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli dan akan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dalam wawancara dengan harian Swiss Tages-Anzeiger pekan lalu, Pieth menyoroti kondisi politik dan sosial di Amerika Serikat.
Dia menilai situasi domestik, termasuk marjinalisasi lawan politik serta dugaan penyalahgunaan wewenang oleh otoritas imigrasi, tidak memberikan rasa aman bagi para penggemar.
“Untuk para penggemar, satu saran saja: hindari Amerika Serikat. Anda akan mendapatkan pemandangan yang lebih baik lewat televisi,” kata Pieth.
Dia juga memperingatkan bahwa suporter yang bepergian ke AS harus siap menghadapi risiko dipulangkan bila dianggap tidak mematuhi otoritas setempat.
Sepp Blatter sendiri mundur dari jabatannya sebagai Presiden FIFA pada 2015 setelah dilanda berbagai skandal, dan posisinya kemudian digantikan oleh Gianni Infantino. Infantino diketahui menjalin hubungan dekat dengan mantan Presiden AS, Donald Trump.
Pada tahun lalu, Blatter bersama mantan Presiden UEFA, Michel Platini secara definitif dibebaskan dari tuduhan hukum terkait pembayaran tertunda sebesar 2 juta franc Swiss yang dilakukan FIFA kepada Platini pada 2011 untuk jasa konsultasi.
sumber : Antara

3 hours ago
2















































