Indef: Penilaian MSCI Jadi Momentum Perkuat Reformasi Pasar Modal Indonesia

8 hours ago 12

Warga berbincang sambil mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 245 poin atau 4,20 persen ke level 5.595, hal tersebut memperpanjang tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov memandang penilaian MSCI terhadap pasar modal Indonesia lebih tepat dibaca sebagai masukan untuk melanjutkan perbaikan yang sudah berjalan melalui agenda reformasi integritas. Penilaian dari penyedia indeks global tersebut, ujar Abra, bukan sebagai sinyal bahwa daya tarik pasar modal Indonesia sedang mengalami penurunan secara fundamental.

“Artinya, agenda perbaikannya sudah ada, prosesnya sedang berlangsung, dan keputusan MSCI kali ini dapat menjadi momentum untuk mempercepat penyempurnaan tersebut," kata Abra dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (20/6/2026).

Ia menilai sebagian besar aspek yang menjadi perhatian MSCI sebenarnya bukan isu baru. Berbagai langkah perbaikan terkait keterbukaan informasi, tata kelola pasar, perlindungan investor, dan penguatan infrastruktur pasar telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Abra, penilaian MSCI patut diapresiasi karena relatif sesuai dengan ekspektasi yang berkembang di kalangan investor, khususnya setelah muncul berbagai kekhawatiran dalam beberapa bulan terakhir terkait potensi perubahan penilaian terhadap pasar modal Indonesia.

Adapun indikator ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,61 persen secara tahunan, inflasi Mei 2026 berada pada level 3,08 persen, rasio kecukupan modal perbankan tetap berada di atas 25 persen, serta cadangan devisa pada akhir Mei 2026 mencapai 144,9 miliar dolar AS.

“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi dan sektor keuangan nasional masih terjaga di tengah ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda,” kata Abra.

Selain data ekonomi saat ini, Abra mengatakan bahwa investor juga memperhatikan arah kebijakan, kepastian regulasi, kualitas tata kelola, serta prospek investasi dalam jangka menengah dan panjang.

Karena itu, upaya memperkuat transparansi informasi dan meningkatkan kualitas pasar tetap perlu dilanjutkan agar kepercayaan investor terus tumbuh.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Politics | | | |