REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Universitas Harkat Negeri (UHN) membentuk pusat kajian keberlanjutan bernama Sustainabilitas untuk merespons meningkatnya dampak perubahan iklim, mulai dari banjir, kekeringan ekstrem, kebakaran hutan, hingga kenaikan muka air laut yang kian dirasakan di berbagai wilayah Indonesia.
Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said mengatakan, pembentukan Sustainabilitas bertujuan memperkuat peran riset dalam mendukung perumusan dan pelaksanaan kebijakan keberlanjutan. Lembaga ini diposisikan sebagai penghubung antara kajian akademik, praktik lapangan, dan kebutuhan pengambilan keputusan publik.
“Sustainabilitas dibentuk untuk menjawab isu keberlanjutan secara lebih operasional, dengan mendorong kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan riset dalam kebijakan,” kata Sudirman dalam peluncuran Sustainabilitas di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Ia menyampaikan, agenda keberlanjutan nasional, termasuk target net zero emission Indonesia, memerlukan dukungan sumber daya manusia, tata kelola, dan kebijakan yang konsisten. Dalam konteks itu, Sustainabilitas diharapkan berkontribusi melalui riset, pengembangan kapasitas, serta pendampingan kebijakan.
Sudirman menilai diskursus keberlanjutan kerap berhenti pada tataran konseptual dan belum sepenuhnya terhubung dengan implementasi di lapangan. Karena itu, lembaga ini dirancang untuk melibatkan peneliti, praktisi, dan profesional dari berbagai latar belakang dalam program yang berbasis kebutuhan nyata.
Direktur Sustainabilitas William Sabandar menyebut Indonesia menghadapi tantangan yang ia gambarkan sebagai “paradoks keberlanjutan”. Di satu sisi, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan potensi ekonomi hijau yang besar, namun di sisi lain masih menghadapi keterbatasan kapasitas sumber daya manusia di bidang tersebut.
Menurut William, Sustainabilitas akan bekerja dengan tiga fokus utama, yakni penguatan kepemimpinan, dukungan kebijakan, dan pelaksanaan aksi nyata. Pada aspek kepemimpinan, lembaga ini menekankan pentingnya integritas, kemampuan analisis, dan kapasitas eksekusi dalam mengelola program keberlanjutan.
“Keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh desain kebijakan, tetapi juga oleh kualitas kepemimpinan yang menjalankannya,” ujar William.
Pada aspek kebijakan, Sustainabilitas mendorong integrasi prinsip keberlanjutan ke dalam regulasi, termasuk melalui standar, insentif, serta mekanisme pelaporan dan kepatuhan yang terukur. Sementara itu, pada pilar aksi, lembaga ini berupaya menjembatani inisiatif lingkungan dengan pembiayaan dan investasi agar program keberlanjutan dapat berjalan berkelanjutan.
Sustainabilitas bernaung di bawah Universitas Harkat Negeri yang berbasis di Tegal. Lokasi tersebut dipilih untuk mendukung pengembangan program berbasis wilayah, dengan pendekatan laboratorium hidup yang memungkinkan pengujian kebijakan dan intervensi secara langsung di tingkat lokal. Model yang berhasil diharapkan dapat direplikasi di daerah lain.
Selain itu, universitas menyebut kerja sama dengan institusi pendidikan dan riset internasional akan dikembangkan untuk menjaga kualitas metodologi dan relevansi riset yang dihasilkan.

2 hours ago
4















































