LazisMu: Ramadhan Momentum Perkuat Solidaritas Sosial Umat

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjelang Ramadhan 1447 H/2026 M, LazisMu Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan komitmennya menjadikan bulan suci sebagai momentum penguatan kesejahteraan umat. Hal itu disampaikan Ketua Badan Pengurus LazisMu PP Muhammadiyah Ahmad Imam Mujadid Rais dalam ZISKA Talks Tarhib Ramadhan bertema “Tangguh dan Sejahtera: Dari Respon ke Pemulihan Bencana Sumatra” pada Kamis (12/2/2026).

Mujadid Rais menjelaskan bahwa pesan ketakwaan Ramadhan harus dimaknai luas dan tidak terbatas pada ibadah personal. Nilai tersebut juga berkaitan dengan etos kerja, integritas, serta tanggung jawab sosial.

“Pesan takwa itu mengajarkan kita untuk tetap berbuat baik dalam keadaan apa pun, baik ada pengawas maupun tidak. Bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga amanah, dan terus memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Namun Ramadhan tidak berhenti pada dimensi individu, melainkan harus menjadi momentum konsolidasi kekuatan sosial umat,” ujar Mujadid Rais, dikutip Republika dari keterangan pers pada Jumat (13/2/2026).

Ia menilai program Ramadhan seperti pembagian takjil dan kado Ramadhan perlu dirancang lebih memberdayakan. Pelibatan UMKM, khususnya pelaku usaha ibu rumah tangga yang terdampak penurunan pesanan, dinilai mampu menggerakkan ekonomi lokal.

“Program takjil dan kado Ramadan harus menjadi bagian dari pemberdayaan umat. Kita bisa melibatkan UMKM agar roda ekonomi berputar. Ini wujud nyata bahwa zakat, infak, dan sedekah memberi dampak berkelanjutan,” katanya.

Menurutnya, zakat merupakan instrumen penting mewujudkan keadilan sosial dan pengentasan kemiskinan sebagaimana ditekankan sejak Muktamar Muhammadiyah 1965 di Bandung. Zakat tidak hanya penyaluran bantuan, tetapi harus mampu mengubah mustahik menjadi muzakki.

“Zakat tidak boleh dipahami sebatas penyaluran bantuan. Zakat harus mampu mengubah mustahik menjadi muzakki. Bahkan sejumlah riset menunjukkan zakat berkontribusi pada peningkatan Human Development Index dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Artinya, zakat adalah pilar penting pembangunan bangsa,” tegasnya.

Selain kesejahteraan, LazisMu juga memperkuat agenda ketangguhan bencana melalui program Indonesia Siaga. Respons bencana, kata dia, tidak boleh berhenti pada tanggap darurat, tetapi berlanjut pada rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Komitmen Muhammadiyah adalah hadir paling awal saat bencana dan menjadi yang terakhir meninggalkan lokasi. Kita tidak hanya membuka layanan darurat, tetapi juga memastikan ada program rehab dan rekonstruksi yang berkelanjutan,” jelasnya.

Ia mencontohkan penanganan gempa Cianjur, ketika pembangunan fasilitas kesehatan Muhammadiyah tetap berlangsung bertahun-tahun setelah bencana. Ketangguhan masyarakat, menurutnya, bertumpu pada nilai spiritual, gotong royong, serta mitigasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Nilai gotong royong adalah modal sosial yang luar biasa. Tetapi kita juga perlu membangun sistem mitigasi yang terencana, edukasi kebencanaan, serta teknologi pendukung seperti early warning system. Ketangguhan lahir dari perpaduan iman, solidaritas sosial, dan kesiapsiagaan berbasis ilmu,” ujarnya.

Ke depan, LazisMu memprioritaskan empat agenda, yakni penguatan ekosistem zakat nasional, digitalisasi tata kelola, pengembangan ketangguhan bencana berbasis masjid dan komunitas, serta pengarusutamaan zakat dalam kebijakan kesejahteraan nasional. Integrasi program dan transparansi diharapkan memperluas partisipasi publik, termasuk generasi muda.

“Kita perlu mendorong agar zakat semakin diakui sebagai bagian dari arsitektur kebijakan kesejahteraan nasional. Zakat bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi juga instrumen ekonomi yang mampu memperkuat sistem perlindungan sosial dan mendukung pembangunan berkelanjutan,” tukas dia.

Read Entire Article
Politics | | | |