Moe Hadir
Senggang | 2026-04-11 20:59:04
Sumber : Pinterest
S A K I T
Oleh : Moe Hadir
“Tak ada orang yang mau sakit“. Kira-kira itulah jawaban yang bisa kita dapat apabila bertanya, “maukah sakit? “. Sakit adalah bagian dari cara Allah Swt untuk mengistirahatkan kita dari penatnya hidup. Ia pun juga sebagai salah satu cara teguran yang Allah Swt sampaikan, atas khilaf dan dosa serta maksiat hamba. Pada sisi yang lain ia adalah ujian keimanan agar kita belajar dan mempraktekan kesabaran atas ilmu-ilmu sabar yang diperoleh.
Tak ada yang salah atas sakit. Yang ada adalah kitalah yang salah, sehingga kita sakit. Pola makan yang tak beraturan, kemudian menjadi sakit. Itulah kesalahannya. Makan tak memperhatikan pola sehat, jajan sembarangan, begadang yang tak bermanfaat, sampai masuk angin kemudian badan menjadi sakit. Kan
Maka ketika “SAKIT“ menimpa, yang perlu dilakukan adalah memaknai sakit dengan benar. Agar tidak menyalahkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Berikut adalah memaknai sakit, agar sakit itu membawa hikmah.
Sabar. Inilah senjata paling ajib sebagai mukmin. Allah memerintahkan kita untuk sabar. “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan perbaharaui kesabaranmu“. Rasulullah juga memberikan nasehatnya, “Sabar adalah pelita“. “Sabar bagaikan fungsi kepala atas jasad“, dalam sabdanya yang lain.
Sabar itu mudah disampaikan, mudah diucapkan, namun belum tentu sanggup dan lulus dalam mempraktikannya. Ketika kita sakit, kita akan diuji seberapa besar kesabaran dalam menghadapi cobaan. Hanya orang-orang yang berjiwa besar dan berlapang luas yang mampu untuk melakukannya. Karenanya Allah Swt memerintahkan untuk selalu memperbaharui kesabaran.
Angkat tangan, berdoalah kepada Allah Swt, ini memaknai sakit yang kedua. Semoga diberi keafiatan, kesehatan. Adalah al kholil, Ibrahim As ketika beliau sakit ujarnya, “Allah lah yang memberikan penyakit, dan Dia pula yang akan mengangkat penyakitku“. Disamping itu, doa adalah senjatanya orang beriman. Ketika sakit menimpa, perbanyaklah istighfar dan berdoa kepada Allah Swt. Dengan memperbanyak istighfar, semoga Allah mengampuni dosa-dosa, atas keslahan yang pernah diperbuat.
Dengan berdoa, semoga Allah Swt mengabulkan permintaan agar disembuhkan dari penyakit yang diderita. Jangan lelah untuk memohon, karena Allah Swt suka kepada hambanya yang senantiasa memohon. “Ya Allah sehatkan badanku, sehatkan pendengaranku, sehatkan penglihatanku, allahumma ‘afani fii badanii, allahumma ‘afani fii sam’iii, allahumma ‘afani fii bashorii”. Ajar khotimul ambiya, Muhammad Saw al Musthofa.
Kuatkan ras optimis, memaknai sakit yang ketiga. Yang membuat lekas sembuh (utamanya tentu adalah Allah Swt) adalah motifasi dalam diri kita sendiri untuk menyembuhkan penyakit itu sendiri. Sebanyak apapun dorongan yang diberikan kepada kita, jika motifasi untuk sembuh kecil, apa lagi tidak ada, sulit rasnya. Seorang mukmin adalah orang yang dianjurkan memiliki harapan yang besar. Jangan pesimis, karena pesimis bukan karakter mukmin.
Optimis, karena optimis bagian dari kesembuhan. Optimis bahwa Allah Swt memberikan cobaan kepada hambanya sesuai kadar kesanggupannya. Optimis, bahwa Allah Swt memberikan penyakit atau rasa sakit, tentu Allah Swt juga memberikan kesembuhan. Optimis, bahwa berobat adalah wasilah kesembuhan. Optimis, dengan bersabar Allah Swt akan menaikan derajat.
Ikhitar. berusaha, berobatl, memaknai sakit yang ke empat. Karena setiap penyakit ada obatnya, kecuali kematian. Apapun hasilnya kita serahkan kepada sang penggenggam kehidupan, sang pemilik kesembuhan, Allah swt. Kewajiban kita berusaha pada sebuah proses, dan nantinya Allah Swt akan menilai sejauh mana usaha itu sendiri.
Islam menganjurkan untuk selalu berikhtiar dalam segala hal, termasuk mencari wasilah kesembuhan. Jangan lelah untuk berikhtiar, sebab lelah-lelah atas ikhtiar akan mendapat pahala dari Allah Swt. Ikhtiarlah, sampai Allah Swt menetapkan yang terbaik.
Ikhitar adalah sebuah proses. Dibutuhkan kesungguhan. Ikhtiar adalah sebuah cara mendapatkan takdir Allah, menuju takdir Allah yang lain. Menuju kesmbuhan. Inilah yang dicontohkan Umar bin Khottob, ketika beliau hendak menuju ke suatu daerah, kemudian daerah yang akan dituju terkena wabah, beliau tidak jadi ke daerah tersebut.
Tawakal, memaknai sakit yang terakhir. Sabar sebagai langkah awal, berdoa tak putus, optimis terus dipupuk dan ikhtiar terus berjalan. Yang terakhir memaknai sakit adalah tawakal. Serahkan semuanya kepada ketentuan Allah Swt. Dan semoga diberikan ketentuan yang terbaik. Sebab, Allah Swt menyukai orang yang menyerahkan ketentuan kepada Nya. Inilah mukmin. Punya cara pandang tersendiri.
Usaha akan sempurna nilainya jika menghadirkan tawakal. Serta menyakini dengan sesungguh keyakinan bahwa Allah Swt adalah yang menyembuhkan. Jangan sampai kemudian syirik, menyakini bahwa dokter yang menyembuhkan. Dokter hanyalah wasilah atau perantara kesembuhan, Allah Swt lah yang menentukan. Bertawakallah, sebab tawakal sumber ketenangan. Sebab tawakal, kita tidak akan menyalahkan ketentuan dari Allah Swt.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

4 hours ago
5









































