Menbud Fadli Zon Terima Gelar Guru Besar Kehormatan dari Unas

3 hours ago 4

Prosesi guru besar kehormatan bidang ilmu politik dan kebudayaan kepada Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon di kampus Unas, Pejaten Timur, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Universitas Nasional (Unas) memberikan gelar guru besar kehormatan bidang ilmu politik dan kebudayaan kepada Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon. Fadli menyebut, penghargaan yang diterimanya sebagai bentuk kehormatan yang sebenarnya sudah dijadwalkan sejak tahun lalu.

"Bagi saya ini tentu satu penghargaan dan sangat mengapresiasi sebesar-besarnya kepada sivitas akademika Unas," kata Fadli usai menerima gelar tersebut di kampus Unas, Pejaten Timur, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2026).

Fadli mengaku, ia telah terdaftar mengajar di Unas sejak 2018. Sebelumnya, ia juga mengajar di Universitas Indonesia (UI) selama lima tahun. Menurut dia, gelar profesor kehormatan menjadi pemicu untuk lebih banyak berkontribusi, terutama dalam pemikiran politik dan kebudayaan.

Dalam kesempatan itu, Fadli juga menyampaikan orasi ilmiah bertajuk "Megadiversitas Budaya Indonesia sebagai Pusat Peradaban Dunia". Dia menilai, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar dan unik, bahkan menurutnya istilah 'beragam' tidak lagi cukup menggambarkan kondisi tersebut.

"Karena begitu banyaknya, baik etnik dan juga karena kita di negara kepulauan lebih dari 17 ribu pulau, bahasa, dan lain-lain," ucap Fadli.

Wakil ketua umum DPP Partai Gerindra tersebut menyinggung soal kebudayaan memiliki daya pengaruh yang halus namun mendalam pada politik global. Menurut Fadli, kebudayaan harus ditanamankan melalui nilai, tradisi, seni, bahasa, dan pengetahuan lokal yang membentuk identitas serta cara pandang suatu bangsa.

Bagi Fadli, pendekatan kebudayaan lebih halus dengan persuasif dan empati. "Praktik global kontemporer seperti Korean Wave dan dominasi narasi Hollywood menunjukkan bahwa kekuatan budaya mampu membentuk citra positif, memperluas pengaruh, serta memperkuat posisi ekonomi dan diplomasi negara secara berkelanjutan, bahkan ketika tatanan internasional formal mengalami erosi," ungkapnya.

Read Entire Article
Politics | | | |