Nelayan Indonesia Semakin Kuat: Fasilitas Baru, Bantuan Alat Tangkap, dan Harapan Produksi Melonjak

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di Kota Batam, Kepulauan Riau, tiga Kampung Nelayan Merah Putih di Kasu, Sekanak Raya, dan Tanjung Banun telah menyelesaikan pembangunan fisiknya secara 100 persen. Kepala Dinas Perikanan Batam, Yudi Admajianto, menyatakan bahwa infrastruktur terintegrasi seperti pabrik es batu, cold storage, gerai alat tangkap, bengkel, hingga sentra kuliner sudah rampung.

“Tinggal menunggu penyambungan listrik dan kedatangan sarana prasarana dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP),” ujarnya di Batam, Rabu. Fasilitas-fasilitas ini nantinya dikelola koperasi setempat sebagai sumber pendapatan bersama, dengan harapan meningkatkan produktivitas tangkapan dan kesejahteraan nelayan.

Sebagai pendukung operasional, setiap kampung nelayan mendapat bantuan dari KKP berupa 10 unit mesin boat, boat, serta alat tangkap lengkap. Di Tanjung Banun, Rempang, Dinas Perikanan Batam juga telah menyalurkan 16 unit sistem bioflok kepada tiga kelompok pembudidaya ikan pada akhir 2025, dengan panen perdana diperkirakan April 2026. Pengurus koperasi di ketiga lokasi sedang mengikuti pelatihan manajemen bisnis dari KKP agar pengelolaan fasilitas berjalan profesional dan berkelanjutan.

Sementara itu, di Provinsi Papua, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) berharap adanya tambahan anggaran untuk mempercepat pengembangan sektor perikanan. Kepala DKP Papua, Iman Djuniawal, menyampaikan hal ini saat kunjungan kerja Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Askolani ke Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Hamadi, Jayapura, Senin (9/2).

Saat ini anggaran tahunan DKP hanya sekitar Rp25 miliar, dengan Rp10 miliar terserap untuk gaji pegawai, sehingga ruang untuk operasional dan pengembangan sangat terbatas. “Kami membutuhkan tambahan Rp3,5–5 miliar untuk memperkuat sarana pelabuhan, fasilitas penyimpanan, dan operasional kapal nelayan,” ujar Iman.

Infrastruktur pelabuhan yang memadai akan memungkinkan kapal di atas 30 gross tonnage bongkar muat di pelabuhan lokal, sehingga hasil tangkapan lebih optimal. Saat ini hampir 90 persen nelayan Papua masih menggunakan pancing tradisional dengan jangkauan dekat dan waktu singkat. Dengan dukungan anggaran dan infrastruktur yang lebih baik, DKP berharap nelayan dapat beralih ke metode modern dan melaut lebih jauh, sehingga produksi ikan meningkat signifikan.

Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) mengimbau nelayan menjaga jarak aman 10 mil laut dari area latihan pertahanan pantai TNI AL yang berlangsung 13–15 Februari 2026. Ketua HNSI Bangka Belitung, Ridwan, menekankan pentingnya mematuhi koordinat steling latihan, melengkapi alat keselamatan berlayar, serta menghindari alat tangkap terlarang demi menjaga keamanan dan ketertiban di perairan.

Di sisi lain, PT Timah Tbk terus menunjukkan komitmen melalui bantuan alat tangkap ikan kepada Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Pesisir Dusun Kedimpel, Desa Baskara Bakti, Kabupaten Bangka Tengah. Bantuan berupa jaring ikan, jaring udang, jaring kepiting, batu pemberat, dan perlengkapan lain diserahkan untuk mendukung aktivitas melaut. Departemen Head Corporate Communication PT Timah, Anggi Siahaan, menyatakan bahwa bantuan ini diharapkan meningkatkan hasil tangkapan dan kesejahteraan keluarga nelayan.

Ketua KUB, M. Riduan, menjelaskan bahwa nelayan di daerahnya bergantung pada musim tangkap yang berbeda-beda, kepiting, udang, hingga ikan, sehingga membutuhkan berbagai jenis jaring. “Jaring udang harganya mahal, biasanya kami beli sedikit-sedikit,” ujarnya. Nelayan Iwan menambahkan bahwa alat tangkap baru yang utuh dan tidak sobek telah meningkatkan hasil tangkapan dari sekitar 1 kg menjadi 3 kg per trip. “Alhamdulillah, terima kasih PT Timah. Semoga bantuan seperti ini berkelanjutan,” kata Riduan.

Secara keseluruhan, rangkaian inisiatif dari Batam hingga Papua dan Bangka Belitung menunjukkan upaya bersama pemerintah, BUMN, dan komunitas nelayan untuk memperkuat sektor perikanan. Dari fasilitas modern, pelatihan bisnis, tambahan anggaran, hingga bantuan alat tangkap, semua diarahkan pada satu tujuan: meningkatkan produksi, kesejahteraan nelayan, dan ketahanan pangan nasional di tengah tantangan zaman.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |