Ramadhan dan Idul Fitri Dorong Permintaan Kredit Awal 2026

2 hours ago 2

Karyawan menghitung uang dollar di money changer PT Valuta Artha Mas, ITC Kuningan, Jakarta, Selasa (8/4/2025). Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke posisi Rp16.865 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (8/4/2025) usai libur Lebaran. Diketahui, penurunan nilai rupiah merupakan dampak dari kebijakan baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menerapkan tarif balasan atau resiprokal terhadap ratusan negara. Trump telah mengumumkan tambahan tarif untuk produk impor asal sejumlah negara, termasuk Indonesia sebesar 32 persen yang mulai berlaku penuh per 9 April 2025. Sejumlah mata uang Asia turut melemah. Yuan China melemah 0,17%, rupee India melemah 0,71%, dolar Hong Kong melemah 0,04% dan ringgit Malaysia melemah 0,16%.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan pertumbuhan kredit pada kuartal I 2026 akan bergerak pada tren positif. Hal itu didorong oleh adanya momen Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriyah. 

“Sejalan dengan proyeksi pertumbuhan kredit yang positif di tahun 2026, OJK melihat permintaan kredit pada kuartal I 2026 memiliki potensi untuk tetap tumbuh positif,” ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam keterangannya, dikutip Ahad (25/1/2026). 

Menurut penuturan Dian, momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) seperti Ramadan dan Idulfitri bisa menjadi pendorong penguatan aktivitas ekonomi. Maka tak ayal permintaan kredit diprediksi bakal terkerek. 

“Secara historis, momentum Ramadan dan Idulfitri cenderung mendorong peningkatan aktivitas ekonomi, khususnya konsumsi rumah tangga dan sektor-sektor produktif pendukung seperti perdagangan, transportasi, akomodasi, serta industri makanan dan minuman. Momentum tersebut diharapkan akan meningkatkan permintaan kredit, baik pada segmen konsumsi maupun kredit modal kerja,” terangnya. 

Di samping itu, Dian melanjutkan, pendorong lainnya yang memengaruhi proyeksi postifnya pertumbuhan kredit di kuartal I 2026, yakni mengenai kebijakan moneter serta fiskal yang sinergis.

“Faktor lainnya seperti transmisi kebijakan moneter yang semakin membaik, tren penurunan suku bunga pinjaman, dan percepatan belanja pemerintah/investasi swasta juga diharapkan akan menjadi katalis untuk pertumbuhan kredit pada awal tahun 2026,” jelasnya.

Read Entire Article
Politics | | | |