Puasa dan Kesehatan Jiwa: Pelajaran Ramadhan di Tengah Dunia yang Gelisah

3 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: dr. Galuh Suryandari, M.Med.Ed (Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Setiap tahun Ramadhan hadir bukan hanya sebagai peristiwa ritual keagamaan, tetapi juga sebagai pengalaman psikologis kolektif. Banyak orang merasakan batin lebih tenang, emosi lebih terkendali, dan relasi sosial lebih hangat.

Pertanyaannya: apakah ini sekadar romantisasi spiritual tahunan, ataukah puasa memang memiliki relevansi nyata bagi kesehatan jiwa?

Di tengah tekanan hidup modern — kecemasan, stres kerja dan belajar, konflik digital, hingga kelelahan mental — Ramadhan menghadirkan interupsi yang jarang terjadi: latihan menahan diri secara sadar. Alquran menegaskan: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa...agar kamu bertakwa." (QS Al-Baqarah: 183).

Takwa tidak hanya bermakna kesalehan spiritual, tetapi juga kesadaran diri yang tajam — kemampuan mengenali dorongan, menahan reaksi, dan mengelola emosi. Dalam perspektif kesehatan jiwa, inilah inti regulasi emosi.

Ajaran Islam menggambarkan atmosfer yang mendukung latihan ini. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu." (HR Bukhari dan Muslim).

Secara sosial-psikologis, Ramadhan menciptakan ekosistem yang kondusif bagi stabilitas batin — norma kebaikan menguat, refleksi diri meningkat, dan distraksi berkurang.

Puasa juga menuntut pengendalian konflik dan agresi verbal, menjadikannya latihan coping mechanism yang konkret di tengah budaya digital yang reaktif. Sementara manusia modern sering mencari ketenangan melalui stimulasi eksternal, Alquran mengingatkan: "Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS Ar-Ra’d: 28).

Ritme ibadah Ramadhan memberi ruang bagi pengalaman reflektif yang sejalan dengan praktik kesadaran diri dalam psikologi kontemporer.

Namun Ramadhan tidak otomatis menenangkan jiwa. Tanpa kesadaran reflektif, puasa bisa berlalu sebagai rutinitas biologis. Justru di sinilah maknanya: Ia adalah kesempatan — bukan jaminan — untuk menata ulang respons, empati, dan orientasi hidup.

Ramadhan pada akhirnya bukan sekadar rentang waktu dalam kalender, melainkan ruang sunyi tempat manusia berjumpa dengan dirinya sendiri. Lapar dan dahaga mengingatkan bahwa manusia bukan hanya makhluk yang menginginkan, tetapi makhluk yang mampu memilih. Dalam jeda itu emosi ditata, amarah dilunakkan, dan empati dipulihkan.

Ketika bulan ini berlalu, yang tersisa seharusnya bukan hanya kenangan sahur dan berbuka, tetapi cara hidup yang lebih tenang dan sadar. Di tengah kegelisahan mental zaman modern, Ramadhan mengajarkan bahwa kesehatan jiwa bukan semata urusan klinik atau statistik — melainkan perjalanan batin untuk menemukan keseimbangan. Dan mungkin justru dalam menahan diri, manusia kembali menemukan ketenangannya.

Read Entire Article
Politics | | | |