Qatayef, Ratu Kue Ramadhan yang Menolak Menyerah pada Reruntuhan Gaza

2 hours ago 5

Seorang pedagang Palestina menjual Qatayef pada hari pertama bulan suci Ramadan, di kamp pengungsi Nur Shams dekat kota Tulkarem di Tepi Barat, 11 Maret 2024. Warga Palestina di Jalur Gaza bersiap merayakan bulan puasa Ramadhan 2026 dengan menghidupkan kembali tradisi membuat Qatayef di atas tungku kayu darurat.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Warga Palestina di Jalur Gaza bersiap merayakan bulan puasa Ramadhan 2026 dengan menghidupkan kembali tradisi membuat Qatayef di atas tungku kayu darurat. Di Gaza, kedatangan bulan suci Ramadhan disambut melalui aroma kue tradisional Palestina yang kembali memenuhi pasar setelah dua tahun menjadi korban genosida yang dilakukan Israel.

Di Pasar Garasi Rafah di Kota Khan Younis, Gaza Selatan, yang dulu ramai dengan pembeli sebelum Israel melakukan genosida, sejumlah pemilik toko berusaha menghidupkan kembali usaha mereka seiring mendekatnya bulan puasa. Di antaranya adalah pembuat Qatayef yang kembali menyalakan tungku kayu di tengah puing-puing bekas bombardir yang dilakukan Israel.

Pemilik toko terus bekerja di bawah kondisi sulit di tengah kehancuran yang meluas dan wilayah sekitar yang masih dijajah Israel di timur kota, termasuk kekurangan bahan bakar dan gas, dikutip dari laman Anadoly Agency, Ahad (15/2/2026). Dengan lebih dari 20 tahun pengalaman, Salim Al-Bayouk yang dikenal sebagai “Raja Qatayef” terus menyiapkan kue ini secara manual meskipun sumber daya langka dan bahan dasar tidak tersedia.

Bayouk (54 tahun) mengatakan kepada Anadolu bahwa ia memulai bisnisnya di Kota Rafah sebelum pindah ke Khan Younis setelah Israel menduduki kota tersebut. Ia mengungkapkan tekadnya untuk terus berlanjut meskipun dalam kondisi sulit.

Qatayef dianggap sebagai “ratu kue Ramadhan” di kalangan Palestina, dikenal karena kemudahan pembuatannya dan biayanya yang terjangkau. Kue ini terdiri atas pancake kecil yang diisi dengan kacang, keju, atau kurma, kemudian dipanggang dan direndam dalam sirup gula.

Bayouk mengatakan selama Ramadhan, pekerjaannya bergantung pada bahan bakar gas untuk memasak, yang membutuhkan sekitar 25 kg per hari. Namun, kelangkaan pasokan memaksanya untuk bergantung pada kayu agar dapat melanjutkan profesinya.

Read Entire Article
Politics | | | |