Sekolah Dinilai Terlalu Sibuk Mengajar, Lupa Memahami Manusia

5 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Di tengah euforia transformasi digital, kecerdasan buatan, dan percepatan teknologi, sebuah pertanyaan mendasar justru muncul dari ruang pendidikan Indonesia: Apakah sekolah hari ini benar-benar membantu manusia berpikir dan memahami dirinya sendiri?

Pertanyaan itu mengemuka dalam forum Ngkaji Pendidikan bertajuk 'Membaca? See the Unseen' yang dihadiri sekitar 500 guru dan pegiat pendidikan dari berbagai daerah seperti Kalimantan Selatan, Bontang, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, DI Yogyakarta, hingga Bali.

Forum yang diselenggarakan oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Balai Besar

Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya Yogyakarta pada 9 Mei 2026 itu menghadirkan pendiri GSM sekaligus dosen Teknik Elektro dan

Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada, Muhammad Nur Rizal.

Forum ini tidak dipenuhi pembahasan kurikulum, administrasi sekolah, atau strategi pembelajaran teknis. Yang dibicarakan adalah sesuatu yang lebih mendasar yakni manusia, kesadaran, dan kemampuan melihat hal-hal yang selama ini tidak tampak di ruang kelas.

Dalam paparannya, Rizal membuka kegelisahan yang selama ini diam-diam dirasakan banyak guru: 'Sekolah Bertambah, tetapi Kemampuan Berpikir Tidak Tumbuh.'

Indonesia mengalami ekspansi pendidikan secara besar-besaran. Menurut data BPS, jumlah sekolah dari 100 ribuan (1970), naik menjadi 200 ribuan (2000) dan menjadi 300 ribuan (2020). Jumlah universitas dari ±10–20 PT (1950-an), naik menjadi 1.171 (1993) dan melesat diatas 4000 kampus (2022). Jumlah mahasiswa juga meningkat dari 200 ribuan (1975), hari ini meningkat pesat menjadi 9,9 juta (2025). Sementara jumlah lulusan sarjana melonjak drastis, dari hanya 30-50 ribuan (1980-an), naik ke 1,3 juta-an (2025).

Namun di tengah ledakan kuantitas tersebut, kualitas berpikir tidak tumbuh secara sebanding. Data PISA 2022 yang dipublikasikan OECD pada 2023 menunjukkan skor Indonesia masih tertinggal sekitar 100–120 poin dari rata-rata OECD dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains. Mayoritas siswa Indonesia juga belum mencapai kompetensi minimum dalam tiga bidang tersebut.

Sementara itu, data PIAAC OECD (2014–2015) menunjukkan kemampuan literasi mayoritas lulusan sarjana di Jakarta masih setara dengan lulusan SMP di Jepang atau negara-negara Skandinavia. Temuan ini memperlihatkan bahwa lamanya seseorang bersekolah tidak otomatis berbanding lurus dengan kualitas berpikirnya.

Rizal juga menyoroti rapuhnya struktur mental peserta didik sebagai akibat dari lingkungan belajar yang tidak melatih ketahanan berpikir. Laporan OECD menunjukkan siswa Indonesia mengalami tingkat perundungan lebih tinggi dibanding banyak negara lain (41 persen Indonesia versus 23 persen OECD) , sekaligus memiliki growth mindset yang jauh lebih rendah (29 persen Indonesia vs 63 persen OECD).

Fenomena inilah yang kemudian Rizal ungkapkan sebagai: 'Schooling Without Learning' (Sekolah berjalan, tetapi belajar tidak benar-benar terjadi).

Untuk menjelaskan persoalan tersebut, Rizal tidak memulai dari teori pendidikan konvensional. Ia justru mengajak peserta memahami konsep entropi dalam hukum kedua termodinamika: bahwa segala sesuatu yang dibiarkan akan bergerak menuju ketidakteraturan.

Menurut Rizal, pendidikan pun dapat mengalami hal serupa. Ketika proses belajar berjalan otomatis tanpa refleksi dan kesadaran, sekolah perlahan berubah menjadi sistem yang sibuk menghasilkan kepatuhan, tetapi gagal membangun manusia yang

sadar. Manusia dilatih sekadar menjadi 'mesin pengulang'.

Ia kemudian mengaitkannya dengan teori dua sistem berpikir dari Daniel Kahneman: Sistem 1 yang cepat, otomatis, impulsif, dan berjalan seperti autopilot; serta Sistem 2 yang lambat, reflektif, dan sadar.

Menurut Rizal, pendidikan hari ini terlalu sering melatih sistem pertama: hafalan, pengulangan, jawaban tunggal, serta kepatuhan tanpa refleksi. Akibatnya, manusia terbiasa menjawab cepat, tetapi tidak terbiasa memahami pikirannya sendiri.

"Padahal, masa depan pendidikan seharusnya adalah melatih kesadaran," demikian

salah satu pesan utama yang disampaikan Rizal dalam forum tersebut.

Sebagai respons atas kondisi tersebut, Rizal memperkenalkan konsep “Saklar Kognitif”, yakni kemampuan manusia untuk mengamati pikirannya sendiri atau metakognisi.

Konsep itu dijelaskan melalui tiga tahap: 1) Interrupt (menghentikan respons otomatis), 2) Observe (mengamati proses berpikir sendiri), dan 3) Reconstruct (memperbarui cara berpikir dan bertindak secara sadar).

Dalam forum tersebut, konsep itu tidak diposisikan sekadar sebagai metode belajar, melainkan sebagai fondasi kesadaran manusia. Bagi banyak peserta, forum tersebut terasa sangat personal.

“Ngkaji Pendidikan adalah kompas pendidikan bagi kami para guru Indonesia,” ungkap Rivai, seorang guru muda dari Yogyakarta.

Sementara itu, Jarudin, seorang guru dari Brebes, mengaku hanya satu kata yang terus

tertinggal di kepalanya setelah acara selesai: "Pantaskah?"

Baginya, pertanyaan itu menjadi ruang jeda untuk mengevaluasi diri sebagai guru: pantaskah cara mengajar yang dilakukan, pantaskah respons yang diberikan kepada murid, dan pantaskah sekolah berjalan tanpa benar-benar memahami manusia di dalamnya.

Aji, seorang profesional yang turut hadir dalam forum tersebut, menyebut Ngkaji Pendidikan sebagai ruang yang langka dan unik, yang sulit ditemukan saat ini. Menurutnya, forum ini bukan sekadar tempat transfer materi, tetapi juga transfer energi, makna, dan harapan baru bagi siapa pun yang hadir di dalamnya.

Ia menilai Ngkaji Pendidikan mampu membangun imajinasi konstruktif, sehingga peserta tidak hanya memahami persoalan pendidikan secara intelektual, tetapi juga menemukan makna terdalam melalui pengalaman batinnya masing-masing.

Barangkali itu sebabnya banyak guru pulang dari forum tersebut dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Mereka tidak hanya membawa teori, tetapi juga semacam keberanian baru untuk berhenti sejenak dan melihat kembali dirinya sendiri.

Di penghujung forum, Rizal menutup materinya dengan analogi tentang energi dalam

kehidupan. "Alam bertahan karena energi terus mengalir. Diserap, diolah, lalu diteruskan

kembali, karena jika tidak akan meledak. Guru pun seharusnya demikian. Pengetahuan

dan kesadaran tidak boleh disimpan atau berhenti pada diri sendiri, tetapi harus

diteruskan kepada orang lain agar tetap hidup dan berkembang," kata Rizal.

Untuk menjadi manusia utuh, ilmu dan kesadaran seharusnya terus dialirkan ke manusia

lainnya. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal mencetak manusia pintar, tetapi manusia yang mampu meninggalkan warisan. "Warisan apa yang ingin saudara tinggalkan bagi generasi, bangsa, dan planet ini?" kata Rizal.

Read Entire Article
Politics | | | |