Skandal Baru Epstein: Dari Perdagangan Seks Hingga Terhubung dengan Mossad Israel

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Seorang informan FBI yang bertindak sebagai Confidential Human Source (CHS) menyatakan keyakinannya bahwa almarhum Jeffrey Epstein, tokoh keuangan yang terlibat skandal perdagangan seks, adalah agen intelijen Israel. Pernyataan ini tercantum dalam dokumen pemerintah yang baru-baru ini dirilis oleh Departemen Kehakiman AS sebagai bagian dari jutaan halaman berkas kasus Epstein.

Dokumen tersebut mengungkap bahwa pengacara Epstein, Alan Dershowitz, pernah mengatakan kepada Alex Acosta Jaksa Agung AS untuk Distrik Selatan Florida saat itu, bahwa Epstein "terafiliasi dengan dinas intelijen AS dan sekutunya."

Menurut informan, rekaman telepon antara Dershowitz dan Epstein menunjukkan bahwa Mossad kerap menghubungi Dershowitz untuk memberikan pengarahan setelah percakapan tersebut. Informan juga menyebut kedekatan Epstein dengan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak, yang disebut sebagai "pembimbing" Epstein dalam pelatihan intelijen.

Ehud Barak adalah seorang politikus senior dan mantan Perdana Menteri Israel (1999–2001) yang juga merupakan prajurit paling berprestasi dalam sejarah militer negaranya. Sebelum terjun ke dunia politik, ia menjabat sebagai Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan dikenal sebagai tokoh kunci dalam upaya negosiasi damai serta operasi intelijen strategis di Timur Tengah.

Bahkan, informan menegaskan bahwa Barak "percaya Netanyahu adalah seorang kriminal," dan bahwa Epstein direkrut sebagai agen Mossad di tengah persaingan geopolitik regional yang melibatkan Israel, sebagaimana diberitakan TRT World.

Informan tersebut lebih lanjut melaporkan bahwa Dershowitz diduga berkata, "jika saya masih muda, saya akan memegang stun gun sebagai agen Mossad." CHS pun menyimpulkan bahwa Dershowitz telah direkrut oleh Mossad dan aktif mendukung misi mereka. Meski dokumen merujuk pada "laporan sebelumnya," tidak jelas laporan mana yang dimaksud, menambah lapisan misteri pada kasus ini.

Keterangan informan ini muncul bersamaan dengan dirilisnya dokumen lain yang menyebut nama-nama elite politik dan keuangan terkait Epstein. Epstein sendiri ditemukan tewas di sel tahanan New York pada 2019, saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks. Sebelumnya, pada 2008, ia mengaku bersalah di Florida karena menyediakan anak di bawah umur untuk prostitusi, sebuah kesepakatan yang dikritik sebagai "deal yang terlalu ringan" bagi Epstein.

Hukum Amerika Serikat menerapkan sanksi pidana yang sangat berat terhadap perdagangan seks anak melalui instrumen hukum federal seperti Trafficking Victims Protection Act (TVPA), yang memungkinkan hukuman penjara seumur hidup bagi pelaku yang terbukti mengeksploitasi anak di bawah umur.

Dalam kasus Jeffrey Epstein, ketegasan hukum ini terlihat dari dakwaan berlapis yang mencakup konspirasi dan perdagangan seks lintas negara bagian, di mana sistem peradilan AS menolak memberikan "kesepakatan ringan" kedua kalinya setelah skandal di Florida tahun 2008 memicu kemarahan publik.

Meskipun kematian Epstein menghentikan penuntutan terhadap dirinya secara pribadi, hukum AS tetap mengejar seluruh jaringan pendukungnya, seperti yang terlihat pada vonis 20 tahun penjara bagi Ghislaine Maxwell, guna menegaskan bahwa kekayaan dan koneksi politik tidak memberikan imunitas terhadap kejahatan eksploitasi anak yang dianggap sebagai salah satu pelanggaran hak asasi manusia paling berat dalam yurisdiksi AS.

Jeffrey Edward Epstein adalah seorang pemodal asal Amerika Serikat yang dikenal karena kekayaan melimpah dan jaringan pergaulan luas dengan elit global, mulai dari politikus, pebisnis, hingga anggota keluarga kerajaan. Lahir di Brooklyn pada 1953, ia memulai kariernya sebagai guru sebelum terjun ke dunia keuangan di Bear Stearns dan kemudian mendirikan perusahaan manajemen asetnya sendiri. Namun, citra publiknya sebagai miliarder dermawan hancur setelah terungkap bahwa ia mengelola jaringan perdagangan seks yang mengeksploitasi puluhan anak di bawah umur selama beberapa dekade.

Read Entire Article
Politics | | | |