Sulsel Siaga 1 Campak: 7 Kabupaten/Kota Ditetapkan KLB

9 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di tujuh daerah di Provinsi Sulawesi Selatan, yakni Kota Makassar, Kabupaten Luwu, Wajo, Sinjai, Bulukumba, Jeneponto, dan Luwu Timur. Penetapan ini dilakukan menyusul peningkatan kasus campak yang menunjukkan tren meluas secara nasional.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sulsel, Muhammad Yusri Yunus, mengatakan status KLB tersebut berkaitan dengan penyebaran kasus yang tidak lagi bersifat lokal, melainkan telah meluas di berbagai wilayah Indonesia.

"Hingga 8 April, tercatat sebanyak 169 anak di Sulsel dinyatakan positif campak berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium," ujar Yusri di Makassar, Ahad.

Ia menjelaskan, campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan sangat mudah menular, terutama pada anak-anak. Gejala peningkatan kasus sebenarnya telah mulai terdeteksi sejak akhir 2025, ketika sejumlah daerah melaporkan kasus suspek.

Pada Desember 2025, kasus campak baru teridentifikasi di tiga kabupaten dalam bentuk suspek. Namun setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, sejumlah kasus kemudian terkonfirmasi positif, seiring dengan meningkatnya penyebaran pada awal 2026.

"Sejak ada diagnosis suspek, kami langsung melakukan langkah pencegahan, termasuk menerbitkan edaran kesiapsiagaan dini kepada seluruh kepala daerah," kata Yusri.

Edaran tersebut antara lain menekankan pentingnya menjaga stabilitas layanan kesehatan, penerapan pola hidup bersih dan sehat, serta peningkatan kewaspadaan terhadap potensi penularan.

Selain itu, Dinas Kesehatan Sulsel juga menggencarkan pelaksanaan ORI (Outbreak Response Immunization) atau imunisasi darurat campak bagi anak usia 9 hingga 59 bulan sebagai upaya memutus rantai penularan.

Yusri mengungkapkan, mayoritas anak yang terpapar campak merupakan mereka yang belum mendapatkan imunisasi. Kondisi ini menunjukkan masih rendahnya cakupan kekebalan kelompok atau herd immunity di sejumlah wilayah.

"Jika kekebalan kelompok tidak terbentuk, maka risiko penularan menjadi sangat tinggi. Bahkan anak yang sudah imunisasi pun tetap berpotensi tertular jika virus menyebar luas," ujarnya.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |